Search This Blog

Loading...

Thursday, May 26, 2016

The Creative Family

Judul: The Creative Family
Penulis: Amanda Blake Soule
Penerjemah: Tutut Lestari
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-574-7
Cetak: Pertama, Mei 2013
Tebal: xxvi + 546 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 39.000 (Diskon di Toko Buku Online)



“Anak harus tahu bahwa ia adalah keajaiban, bahwa sejak awal dunia hingga akhir zaman, tidak ada dan tidak pernah ada anak lain seperti dirinya” – Pablo Casals

Bagaimana mendorong imajinasi dan menumbuhkan ikatan keluarga, adalah tagline yang pas untuk buku ini karena di dalamnya penulis tidak hanya menyodorkan kreativitas keluarga tapi juga menonjolkan efek dari aktivitas bersama tersebut. Menyenangkan membaca buku ini, sampai saya dibuat iri dengan kreativitas si ibu dan anak-anaknya, apalagi gaya tuturnya sangat bersahabat.

Buku terbagi dalam empat bab, masing-masing merangkum cara mencari inspirasi, tips-tips membangkitkan imajinasi dan saran-saran yang perlu dilakukan untuk mendukung kreativitas anak yang suka tiba-tiba bisa muncul, semisal menyediakan bahan-bahan yang sering dijadikan bahan berkreasi dan meletakkan sesuai jangkau anak. Resiko berantakan pasti ada sehingga di beberapa bagian penulis memberikan tips meminimalisirnya.

Meski mungkin tidak semua saran/teknik penulis bisa diikuti, tetap saja banyak hal yang bisa diambil dari membaca The Creative Family ini. Hampir di setiap sub bab, penulis akan memberikan contoh aktivitas yang dilakukannya bersama keluarga, juga terselip panduan membuat prakarya dengan penjelasan yang cukup detail, salah satu prakarya rajut membuat saya ingin kembali belajar merajut.

“Saat kita memberi mereka (anak) ruang dan dorongan untuk mengeksplorasi kreativitas mereka sendiri, mereka bisa menjadi seniman yang paling menginspirasi, ilmuwan yang selalu ingin tahu, dan filsuf yang paling orisinal.” (Prakata)

Pembahasan/selipan yang paling saya suka dalam buku ini adalah momen-momen penghargaan yang diberikan untuk anak mereka. Salah satu kejadian yang berkesan menurut saya dari pengalaman penulis adalah ketika sebuah gambar anaknya dikreasikan menjadi sulaman pada bantal hias keluarga. Saya jadi terbayang ekspresi wajah Miza setiap kali mendapat pujian setelah menggambar/membuat sesuatu atau saat gambarnya ditempel di tembok. Suatu bentuk penghargaan yang akan memompa kepercayaan-dirinya.

Pembahasan juga menyelipkan contoh-contoh permainan, yang tidak hanya memuat sisi kreativitas tapi juga bertujuan menghangatkan hubungan keluarga. Salah satu permainan sederhana yang direkomendasikan penulis untuk ‘mengikat’ keluarga adalah Kisah Tanpa Akhir dan permainan ini berhasil saya lakukan bersama si sulung bahkan membuat dia ketagihan untuk berimajinasi terutama dengan cerita binatang. Beberapa saran yang memungkinan dilakukan sangat ingin saya terapkan di rumah.

“… betapa indahnya jika kita semua bisa meyakini dan menerimanya, karena seni memiliki kekuatan yang luar biasa --- Kekuatan untuk mengekspresikan, kekuatan untuk menyembuhkan, kekuatan untuk berbicara, dan kekuatan untuk menghubungkan orang.” (h.78)
Readmore → The Creative Family

Tuesday, May 3, 2016

Sheila, Kenangan yang Hilang

Judul: Sheila, Kenangan yang Hilang
Penulis: Torey Hayden
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita
ISBN: 979-3269-07-3
Cetak: Ketiga, Desember 2003
Tebal: 528 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. -




“Antara dahulu dan sekarang saya selalu percaya bahwa saya telah menyelamatkannya dari bencana terburuk. Kini, setelah menyadari bahwa bahkan ketika dia masih mengikuti kelas saya dia tetap menderita, saya merasa kesakitan. Kesakitan ini semakin menyiksa sekarang setelah saya tahu bahwa bahkan saya tidak tahu tentang penderitaannya.” (Torey ~ h. 264 hlm)

Saya sama sekali tidak menyangka kelanjutan Sheila akan seperti ini. Bahwa kelas Torey yang saya pikir telah mengubah Sheila, ternyata tidak membawa dampak besar bagi hidupnya. Bahkan, Sheila lupa dengan kelas yang sempat memberikan keceriaan dalam hidupnya. Sheila menganggap Torey telah merusak hidupnya, menjebloskannya ke dunia yang tak dikenal kemudian meninggalkannya sendiri, sama seperti Ibunya.

“Ini sungguh menyakitkan. Pengalaman itu mempunyai arti yang begitu penting bagi saya sehingga saya beranggapan bahwa itu juga sama pentingnya bagi dia. … Tanpa saya, tanpa lima bulan yang kami alami bersama, kemungkinan besar Sheila akan berada dalam sel di sebuah rumah sakit Negara. … Saat saya menyadari kepongahan dari asumsi saya. Selanjutnya, saya berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa masa lima bulan itu mungkin memberi lebih banyak arti bagi saya daripada bagi Sheila.” (Torey ~ h. 128)

Buku ini masih berkutat dengan pendidikan anak dengan keterbelakangan mental. Kali ini, Torey membuka kelas bersama Jeff, dan melibatkan Sheila di dalamnya, dengan harapan dia bisa mengingat kenangan di kelas Torey dahulu. Saya jauh … jauh lebih suka kisah Sheila, Kenangan yang Hilang daripada yang sebelumnya. Seri ini lebih kompleks. Pertemuan Torey dengan Sheila ternyata menguak banyak sekali ganjalan dalam diri masing-masing.

Torey sekarang berhadapan dengan remaja, yang tak bisa dikendalikan seperti saat Sheila kecil. Naik turunnya emosi remaja tergambar dengan gamblang pada buku ini. Terkadang saya sendiri salut dengan kesabaran Torey yang masih bersedia menerima kembali Sheila dengan tingkahnya yang begitu menjengkelkan dan sangat labil.

“Kamu dan Sheila sama-sama mengidap penyakit yang sama. Yang tersimpan dalam ingatan Sheila hanyalah guru yang hebat yang tidak pernah marah padanya dan kini dia jengkel saat menemukan betapa biasa dan manusiawinya kamu; tapi kamu tahu, Hayden, kamu pun melakukan hal yang sama. Yang mewarnai perilakumu terhadapnya sekarang adalah fakta bahwa yang kamu ingat pun bukan Sheila sebagai anak yang sebenarnya, melainkan si tokoh berusia enam tahun dalam bukumu.” (Jeff ~ h. 183)

Sekali lagi, kisah hidup Sheila memberikan banyak makna/pelajaran bagi saya. Selain itu, kisah ini memberikan gambaran bagaimana manusia tak selamanya tahu apa yang terbaik untuk dirinya/orang lain, tapi melakukan/memberikan yang terbaik adalah pilihan yang berharga.
Readmore → Sheila, Kenangan yang Hilang

Saturday, April 23, 2016

Catatan Hati Ibunda


Judul: Catatan Hati Ibunda
Penulis: Asma Nadia, dkk
Editor: Diyan Sudihardjo, Hilda Emil
Penerbit: Asma Nadia Pusblishing
ISBN: 978-602-9055-19-1
Cetak:Pertama, September 2013
Tebal: viii + 304 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 56.000


Dan begitu gemasnya aku, ketika mendengar alasan utama yang dipaparkan sekolah ketika meminta anakku mengundurkan diri adalah karena ia tidak normal. (Aku Percaya Padamu, Malaikat Kecilku ~ h. 98)


Kutipan di atas diambil dari ujian seorang Ibu yang diamanahi putri hiperaktif nan cerdas tapi kesulitan untuk merangkai kalimat dalam kesehariannya. Kesulitan semakin rumit ketika si kecil tidak bersedia mengikuti gurunya karena diperlukan teknik khusus 'merayunya'. Sayangnya, pihak sekolah sepertinya 'tidak ingin' dipelajari teknik baru di luar standar mereka. Mungkin istilah pasnya, gak mau ribet.


Saya jadi teringat dengan kalimat dari buku Pak Munif Chatib, "Anak kita harus memiliki dua kaki yang kuat untuk mendaki. Ketika orangtua dan guru menjadi sahabat sejati, maka mereka berdua akan menjadi kaki yang kuat untuk anaknya mendaki." Jika sekolah hanya menerapkan pembelajaran dengan standar 'anak normal', pendidikan tidak ada berkembang dan bersifat otoriter. Bersyukur akhirnya, sang Ibu tetap berjuang dan menemukan sekolah yang tetap peduli dalam mendidik anak-anak dengan keistimewaan lebih.


Aku bukan siapa-siapa, tapi aku ibu anakku. Dan aku yakin Allah menganugerahkan seorang anak istimewa karena Ia tahu aku akan berjuang.” (Aku Percaya Padamu, Malaikat Kecilku ~ h.100)


Belajar menjadi orangtua adalah pengalaman yang luar biasa. Ada rasa bahagia, antusias, takut, cemas, bahkan bingung. Ya, Bingung, seperti dalam judul Sekolah menjadi Ibu, salah satu kisah yang membuat kepala saya mengangguk-angguk. Sebenarnya, kisah ini hanya berisikan kegelisahan penulis. Sejak hamil penulis ketiban banyak saran, dari orangtua, dari teman, dari dokter, dan pusingnya, dia tidak tahu harus mengikuti yang mana.


“.... Kemudian datanglah bulan terakhir kehamilan.

Kata Mertua, aku harus minum rendaman air rumput fatimah

Kata teman, aku harus banyak minum madu supaya jalan lahirnya lancar

Kata saudara, madunya harus dicampur telur ayam kampung mentah

Kata Papa, aku harus banyak jalan spaya bayinya bisa turun ke jalan lahir

Kata Mama, lebih baik latihan mengepel di rumah

Kata dokter, aku harus banyak istirahat karena tensi yang terlalu rendah

Suami tidak berkata apa-apa. Dia sendiri pusing dengan begitu banyaknya saran (Sekolah Menjadi Ibu ~ h.64)


Situasi yang masih berlanjut setelah kelahiran, bahkan bisa jadi setelah anak tumbuh dan dewasa. Merasakan hal yang sama, bukan? Tapi kegelisahan seorang Ibu tak hanya karena faktor luar, tapi juga faktor dalam diri. Pertanyaan tentang apakah sudah benar dalam mendidik anak, dimana letak kesalahan, kenapa anak tidak bisa menurut, bermunculan di kepala. Menyusutnya rasa percaya diri dan ada ketakutan karena sudah atau mungkin akan melakukan kesalahan, sering ‘menyerang’ para Ibu. Saat kesabaran menghadapi polah anak mulai tergerus kelelahan, teriakan atau pemukulan dianggap sebagai penuntas masalah.


Tak jarang mata saya langsung memanas, ingin menangis. Selain karena emosi yang tak terlampiaskan, berbagai perasaan berkecambuk. Saya mendadak merasa seperti ibu yang tidak sabaran, ibu yang bodoh, tidak amanah terhadap titipan Allah, dan berbagai tudingan buruk lainnya. Bagaimana tidak, harusnya saya sadar bahwa Dinda masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa ia telah melakukan kesalahan. (Sesaat, Sebelum Emosi Meledak ~ h.142)


Salah satu konflik yang sering terjadi antara orangtua dan anak adalah komunikasi. Perbedaan pendapat antara orangtua dan anak sudah menjadi hal lumrah. Bahkan, ketika memiliki anak, bisa jadi mengalami perbedaan pendapat dengan ibu kita dalam mengasuh/menangani anak. Kita yang mempelajari pola asuh melalui buku/internet, seringkali bertentangan dengan ibu yang masih menerapkan pendidikan zaman dulu. Tak dipungkiri, peran teknologi menjadikan anak lebih kritis dalam menanggapi situasi. Orangtua dan sekolah bukan lagi sumber pengetahuan satu-satunya bagi anak. Maka, tidak perlu kaget, ketika suatu saat anak juga akan berbeda pendapat dengan orangtua.


Kadang berpikir, apakah aku sekadar mencari-cari alasan ketika tengah berargumen dengan anakku? Apakah sebetulnya kami sebagai orangtua, tengah melindungi kepentingan diri sendiri ketika memaksakan satu kehendak kepada anak-anak? (Demonstran! ~ h.179)


Kisah-kisah dalam buku Catatan Hati Ibunda, memperlihatkan sebagian ragam konflik batin atau lahir yang melanda keluarga. Tak hanya bercerita tentang pengalaman ibu beranak bayi/balita, tetapi juga remaja dan dewasa. Pembaca tidak akan disuguhi solusi gamblang di dalamnya, tapi pengalaman selalu menjadi pelajaran berharga, meski pengalaman tersebut datangnya dari orang lain.


Jangan berpikir bahwa ketika anak sudah tumbuh remaja/dewasa, orangtua tak perlu memusingkan perkembangannya, karena permasalahan pada setiap usia anak memiliki tingkatannya. Jadi, tidak ada yang kata berhenti belajar terutama bagi orangtua karena karakter utama dari seorang anak terbentuk dari dalam rumah (keluarga).


"Janganlah engkau berpikir tentang hasil akhir dari usahamu mendidik, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidik." (Prinsip-Prinsip Dasar Parenting, Ust. Rahmat Abdullah)
Readmore → Catatan Hati Ibunda

Friday, April 8, 2016

Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Judul: Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku 
Penulis: Saniyasnain Khan
Penerjemah: Shinta Anita
Penerbit: Muara (Imprint KPG)
ISBN: 9011206050
Cetak: Pertama, November 2012
Tebal: 319 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp. -


Memperkenalkan Al-Qur'an sejak dini, seharusnya sudah menjadi barang wajib bagi muslim/ah, terutama yang telah diamanahi anak. Mulai dari membiasakan telinga anak dengan bacaan-bacaan Al-Qur'an sampai membacakan isi yang terkandung di dalamnya. Salah satu cara menyampaikan sesuatu yang disukai anak adalah bercerita, dan media yang cocok adalah buku dengan ilustrasi/gambar yang mendukung cerita. 

Salah satu cerita dan ilustrasi yang menggambarkan keMahaBesaran Allah SWT.

Sebagian besar kisah yang dituturkan dalam buku ini adalah kisah Nabi yang terkandung dalam Al Qur'an. Dari kisah Nabi Adam as, sampai kisah bapak pada Nabi yang banyak disampaikan dalam buku ini, yaitu Nabi Ibrahim as. Selain berkisah tentang nabi, ada kisah tentang Fir'aun dan Qarun yang menjadi sisi peringatan bagi orang-orang yang kerap menyombongkan diri.

Salah satu kisah tentang Nabi Ibrahim as.
Azab Qarun, tokoh yang memiliki kekayaan berlimpah tetapi sombong
Sudah pasti yang menyenangkan dari buku ini adalah ilustrasi warna-warninya yang membuat anak betah untuk berlama-lama melihat, terutama bagian yang memperlihatkan binatang. Bagian yang paling mengena untuk saya pribadi adalah bab 25 Nasihat Luqman, yang memang berisikan nasihat Luqman untuk putranya yang tercantum pada Surat al-Luqman.

Sebagian daftar isi dari buku Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Readmore → Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Thursday, March 31, 2016

5 Guru Kecilku #2

Judul: 5 Guru Kecilku #2
Penulis: Kiki Barkiah
Editor: Aditya Irawan
Penerbit: Mastakka Publishing
ISBN: 9786027327412
Cetak: Desember 2015
Tebal: xxvi + 237 hlm
Bintang: 5/5
Harga: Rp. 80.000


"Kiki... Sesungguhnya Allah tidak meminta kamu untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Allah hanya meminta kamu taat! Sehingga Allah sendiri yang akan menyelesaikan persoalan kamu." (h. 28)

Masih sama seperti 5 Guru Kecilku bagian pertama, seri terbaru ini juga sangat menginspirasi, minim teori tapi padat dengan realitas. Pada buku ini saya menemukan Ali sudah memasuki masa remaja, di mana kemandirian dalam belajar terbaca luar biasa. Momen Ali yang paling mengena dalam buku ini adalah saat kerinduan Ali dengan sosok Ayah yang tak lagi bisa memberikan perhatian penuh kepadanya, karena banyaknya adik yang juga membutuhkan perhatian. Momen yang mungkin juga akan dilalui Sulung saya.

Syafiyah agak jarang dikulik dalam buku ini, seingat saya hanya sekilas-sekilas, dan sekalinya muncul ketika Teh Kiki mencurahkan cita-citanya terkait Syafiyah kelak --- tapi tetap bisa dijadikan referensi mendidik putri. Pada bagian kedua ini Teh Kiki masih 'bergulat' dengan emosi Shiddiq, sedangkan Rafiq juga mulai menunjukkan aksinya, perebutan perhatian orangtua kerap menjadi alasan 'pertempuran' mereka.

Mendengarlah... Diammu sejenak untuk duduk bersama dan mendengar perasaan mereka, mungkin kelak turut dapat menyelamatkan masa depan mereka (h.22)

Cerita paling menyentuh bagi saya adalah Andai Saja Aku Mau Mendengar Satu Kalimat Lagi, kisah yang menohok apalagi mengingat kesabaran saya yang sering pupus ketika berhadapan dengan Si Sulung, Miza. Niat baik anak terkadang disalahpahami orangtua ketika mereka melakukannya dengan tindakan dan komunikasi yang tidak tepat. Padahal, di usianya yang masih kecil, mereka sedang belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan benar, reaksi orangtua yang tidak tepat bisa memupuskan kebaikan anak.

Setiap cerita memberikan referensi bagi pembaca untuk berhadapan dengan anak. Mengelola emosi, memenuhi aktivitas dengan berdiskusi, kerjasama apik dari suami-istri dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai membuat setiap pengalaman terasa bisa diandalkan untuk dijadikan bekal mendidik anak. Cerita Satpam Gadjet yang Cerewet membuat saya tertawa tetapi juga mengagumi komitmen dan ketekunan dari Teh Kiki dalam membimbing setiap buah hatinya menjadi pribadi berdaya guna, sekaligus bertaqwa.

Modal yang paling utama adalah kepercayaan kepada Allah. Bahwa Allah telah memasangkan seorang anak dengan orangtuanya. Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya. (h.96)
Readmore → 5 Guru Kecilku #2

Sunday, March 13, 2016

Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Judul: Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil 
Penulis: Torey Hayden
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita
ISBN: 9793269065
Cetak: Keenam, Februari 2014
Tebal: 478 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp 20.000 (Beli Seken)


Baik saya mau mengakuinya atau tidak, kehidupan di kelas saya merupakan perang tanpa henti. Bukan hanya dengan anak-anak melainkan juga dengan diri saya sendiri. ~ h.85

Torey adalah seorang psikolog pendidikan yang memiliki kelas 'terapi' dengan anak-anak yang memiliki masalah berat dalam hidupnya. Saya mengajar di sebuah kelas yang, di distrik sekolah kami, memiliki julukan sayang: "kelas sampah." Saat itu merupakan tahun terakhir sebelum dimulai upaya mengklasifikasikan anak-anak khusus; tahun terakhir untuk memilah-milah semua anak yang memiliki kelainan ke dalam kelas tersendiri.... Saya mendapat delapan anak tersisa, delapan anak yang tidak masuk klasifikasi. Saya adalah perhentian terakhir sebelum mereka dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Itu adalah kelas untuk manusia buangan yang masih muda.

Sheila hadir di kelas agak terlambat, dari awal tahun ajaran. Kasusnya membakar anak kecil menjadikan dia, anak bermasalah dengan kategori berat. Perlakuan Ayahnya dan ditinggalkan di jalanan oleh ibunya menjadikan Sheila biang masalah di semua sekolah yang pernah ditempati, ditambah lagi, dia selalu kesulitan dalam mengendalikan emosi. Torey berhadapan dengan anak yang baru berusia 5 tahun tapi memiliki banyak konflik dalam dirinya.

Dia (Sheila) terbiasa memperjuangkan apa yang diinginkannya. Jika seseorang mengambil tempat dalam barisan yang telah dipilihnya, dia memukul orang itu cukup keras untuk mendapatkan kembali ~ h. 164

Akan tetapi, masalahnya lebih dari sekadar menghancurkan kertas atau bahkan bayi gerbil. Balas dendam itu benar-benar diperhitungkan dan dipendamnya lama, sering disebabkan hal-hal tidak sengaja dilakukan orang terhadapnya. ~ h. 181

Sheila terbiasa disakiti pikirannya sehingga ketika ada orang yang berlaku baik padanya, rasa curiga dan tanda tanya besar beberapa kali muncul dalam pertanyaan-pertanyaannya kepada Torey. "Kenapa kau melakukan ini?" pertanyaan yang muncul saat Torey menunjukkan kasih sayangnya atau memberikan hadiah. Proses membimbing Sheila memperbaiki karakter terasa perlahan dan penuh kesabaran, bahkan saya terkadang merasa bosan karena perubahan Sheila terasa lambat dan berputar-putar.

Kepergian Torey selama dua hari untuk konferensi pendidikan ternyata berakibat fatal. Sheila yang dikiranya  sudah bisa mengendalikan emosi, ternyata kembali meluapkan kemarahannya dengan menghancurkan kelas. Rasa sakit hati Torey, yang sebelumnya menaruh kepercayaan besar kepada Sheila, membuat saya ikut merasa marah kepada Sheila. Tapi, lagi-lagi Torey harus bisa mengatasi 'perang tanpa henti' dalam dirinya.

Bagian yang agak menggoncang adalah kasus dengan Paman Jerry. Sebenarnya dari awal saya sudah memikirkan kemungkinan akan menemukan kasus pelecehan seksual dalam buku Sheila, tapi saya tidak menyangka akan semengerikan itu. Saya syok. Butuh jeda untuk bisa melanjutkan membaca memoar Sheila ini. #ngelusdada

Catatan Torey Hayden dalam menangani murid-muridnya, terutama Sheila, sangat menarik. Torey selalu jujur dengan setiap anak didiknya, dia menyampaikan apa yang dirasakannya dan tak canggung menjawab, tidak tahu. Mengedepankan diskusi meski mereka baru berusia 5-6 tahun, dan memancing anak didiknya untuk mencari solusi dari masalah yang terjadi. Satu lagi yang disoroti dalam buku ini, Torey tidak menampilkan dirinya sebagai orang yang sempurna, tapi seorang pembelajar yang tak segan belajar dari anak didiknya.
Readmore → Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Tuesday, March 1, 2016

Jangan Bercerai, Bunda

Judul: Jangan Bercerai, Bunda
Penulis: Asma Nadia, dkk
Editor: Diyan Sudihardjo, Nabila Fadiyah
Penerbit: Asma Nadia Pusblishing
ISBN:  9786029055207
Cetak: September, 2013
Tebal: 285 hlm
 Bintang: 3/5

 Perceraian harus dilihat sebagai pintu darurat yang hanya dibuka jika memang sudah tidak ada pilihan lain
Cerai. Kata tabu yang menyimpan banyak ketakutan, tapi pada kondisi tertentu sangat dibutuhkan untuk mengembalikan harapan hidup. Alhamdulillah, dalam keluarga intinya saya, belum ada talak yang pernah terucap, Nau'udzubillah min dzalik. Tetapi, perceraian cukup mudah ditemukan di sekitar, dari keluarga besar atau tetangga. Apalagi, telinga dan mata dicekoki berita-berita perceraian artis melalui infotainment atau berita di laman-laman dunia maya.

Perhelatan nikah yang selalu disambut dengan sumringah, sejatinya membutuhkan perjuangan dan komitmen yang tak luput dari air mata. Adanya orang ketiga, perbedaan prinsip, dan kekerasan dalam rumah tangga menjadi alasan jatuhnya talak, yang banyak ditemukan dalam kumpulan kisah nyata, Jangan Bercerai Bunda

"Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah Talak / cerai”

Perceraian memang dihalalkan, tetapi dampak/perubahan yang ditimbulkan tidak main-main. Tak hanya untuk si pelaku (suami-istri) tetapi juga anak atau orangtua masing-masing. Sehingga Allah pun menjadikan perceraian adalah perkara yang dibenci. Anak adalah pihak yang sering menjadi korban, apalagi jika orangtua masih tetap menggenggam ego dan kebencian pada si 'lawan' setelah perpisahan. 

Aku menyesali proses kami berpisah. Aku benar-benar tidak memperhatikan dampak psikologis anak-anak, terutama Putri.... sebenarnya bisa saja kami tidak harus bercerai. Atau paling nggak kami berpisah dengan baik-baik, kalau saja saat itu aku nggak terbawa emosi, bertindak tanpa membabi buta, dan tidak egois hanya memikirkan menang ~ h.33

Anak membutuhkan sosok ayah dan ibu dalam perkembangannya. Kasih sayang utuh, walaupun orangtua sudah dalam posisi berpisah. Meski tidak dipungkiri, banyak juga anak yang kekurangan kasih sayang akibat orangtuanya terlalu sibuk dengan aktivitas/pekerjaan. 

Yang kutahu Bilfa tak pernah menyesali keadaan. Dia hanya rindu ayahnya, bukan meratapi perpisahan orangtuanya. ~ h.18
Apa keluarga baru Ibu bukan keluargaku? Lalu keluargaku yang mana? Jadi aku tidak punya keluarga? Sungguh membingungkan ~ h. 183

Mengalahkan ego setelah perceraian, demi memberikan kasih sayang pada anak sesuai kapasitasnya, bisa jadi hal yang sangat sulit. Seperti ketika orang lain melukai hati kita, tapi kondisi tetap memaksa untuk bertemu dengan sosoknya, pastinya membutuhkan kelapangan hati yang luar biasa. Perceraian tak jarang menjadi pilihan yang membutuhkan pemikiran panjang meski kondisi sudah kepayahan. Ketakutan akan status anak, jadi omongan tetangga, masalah ekonomi, menjadi pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan perceraian.

Demi hak Fatimah untuk mempunyai orangtua yang lengkap, aku merelakan diri menerima kekerasan dalam rumah tangga berhari-hari. Tapi aku manusia juga yang ada saatnya melemah karena ujian berat.

Mudahnya diri terbawa emosi, ego yang tinggi, nurani yang kerap terabaikan, memperlihatkan betapa lemahnya manusia. Ketika goncangan rumah tangga dan kebingungan begitu kuat, manusia membutuhkan pegangan yang kokoh dan pemberi keputusan terbaik. Istikharah, menyertakan Allah dalam setiap pengambilan keputusan, sangat diperlukan. Saya menemukannya keistimewaaan Iistikharah dalam cerita 'Saat Untuk Berpisah'  

Salah satu kisah yang menurutku paling menarik adalah Ketika Cinta Pergi. Saya dibuat geleng-geleng kepala dengan kebrutalan pihak keluarga lelaki dalam memisahkan Shinta dan Adhi. Sekuat-kuatnya mereka mempertahankan ikatan, tapi saat keluarga tidak merestui, perceraian bisa terjadi.  Pernikahan tak selalu indah, tapi juga tak melulu sedih. Perlu niat awal dan tujuan yang lurus untuk bisa mempertahankan keutuhan keluarga.
Ternyata 30 tahun belumlah cukup untuk saling memahami dan menghargai pasangan. Di sinilah aku semakin mengerti, ternyata cinta saja tidak cukup dalam membangun rumah tangga. Saat Allah dianggap bukanlah tujuan dalam membina rumah tangga, saat itu pula semua akan goyah. ~ h. 253
Readmore → Jangan Bercerai, Bunda
 

Sahabat si Cilik Template by Ipietoon Cute Blog Design