Search This Blog

Thursday, September 29, 2016

Bintang Keluarga

Judul: Bintang Keluarga
Judul Asli: The Bed and Breakfast Star
Penyunting: Poppy D. Chusfani
ISBN: 9789792247015
Cetak: Juni 2009
Tebal: 216 hlm
Bintang: 4/5
Harga: -


“Aku kembali menjulurkan lidah, karena muak diomeli semua orang sementara aku tidak bersalah.” (Elsa – h.68)

Elsa hidup bersama ibu dan ayah tiri, ditambah dua adik kecil yang sangat disayanginya. Kemarahan secara verbal seringkali datang kepadanya sebagai bentuk pelampiasan stres orang dewasa. Kehidupan Elsa berpindah-pindah, sampai dia menomori dan memberi penilaian tempat tidurnya setiap kali berganti tempat tinggal. Kepindahan untuk kesekiankalinya, mengantarkan Elsa dan keluarga ke Royal Hotel, tempat penampungan keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal, dan inilah tempat tidur ke tujuh Elsa.

“Tempat tidur itu berderak kemudian mengerang. Sama sekali tidak membuatku memantul. Tempat tidur itu hanya bergetar dan berhenti bergerak. Tempat tidur nomor tujuh sangat mengecewakan.” (h.45)

Ibu sangat tidak menyukai Royal Hotel karena kondisinya yang hampir tidak layak huni. “Aku benci melihat Mum sedih dan murung seperti itu. Aku berusaha melucu untuk membuatnya agak ceria” (h.80) Elsa selalu ingin membuat suasana ceria dengan leluconnya, sayangnya orang dewasa malah menganggapnya mengacau. Betapa menjengkelkan orang dewasa, tebak-tebakan Elsa hanya dianggap angin lalu.

“”Apa yang ada di kepalamu, berkeliaran, dan berteriak-teriak begitu?” dia (Mack) berteriak, bergegas melintasi ruangan. Aku bisa merasakan ini bukan saat yang tepat untuk berkata bahwa aku hanya meniru tingkah laku ayah tiriku.” (h. 73)

Mack, Ayah tiri Elsa tidak menyenangkan karena suka sekali mengeplak, tapi Elsa menyayangi kedua adik tirinya, terutama Pippa. “Mack si Keplak. Itu bukan gurauan. Dia memang suka mengeplak. Terutama mengeplakku. Seharusnya orang dilarang mengeplak anak-anak. Di banyak Negara, memukul merupakan perbuatan melanggar hukum dan jika orang memukul anak-anak, ia akan masuk bui. Aku berharap tinggal di salah satu Negara itu.” (h. 13)

Meski kesehariannya tidak menyenangkan bersama Mack, tapi Elsa anak yang enerjik dan riang. Saat kedatangannya di Royal Hotel, Elsa menemukan teman baru, Naomi, gadis yang suka duduk di atas wastafel sambil membaca buku. Selain itu, ada si Tampang-Lucu yang sebelumnya adalah musuh, tapi di kemudian hari menjadi teman karena tebakan dan lelucon Elsa.

“Sekolah itu agak bikin depresi juga. Mereka menyuruhku mengerjakan tes serta segala macam ujian dan aku tidak mampu mengerjakan sebagian besar di antaranya. Mereka menganggapku tolol. Aku menganggap diriku tolol. Aku harus mengikuti beberapa kelas ekstra untuk membantuku belajar baca-tulis dan berhitung. Anak-anak yang lain menertawaiku.” (h.111)

Salah satu yang menyenangkan ketika kepindahannya ke Royal Hotel adalah saking stresnya Mum, dia lupa menyekolahkan Elsa. Namun, suatu hari Elsa harus sekolah, hanya saja pengalaman bersekolah yang tidak menyenangkan membuatnya membolos bahkan pada hari pertama masuk kelas. “Tampang-Lucu dan hampir semua anak cowok membolos setiap hari. Aku memutuskan itulah yang akan kulakukan. Aku mungkin sadar aku cerdas, tapi sekolah ini mungkin bakal memberiku jenis tes yang salah. Aku bisa dengan mudah dikira bodoh lagi.” (h.113)

Elsa memiliki cita-cita menjadi komedian terkenal dan muncul di televisi. Keinginan yang membuatnya senang terus membaca koleksi bukunya yang berisi kumpulan lelucon. Keinginannya yang besar untuk muncul di layar televisi pernah muncul, tapi sayangnya media hanya menginginkan berita lain dan melupakannya yang berusaha mati-matian melontarkan leluconnya. Hingga suatu ketika terjadi kegemparan dan menyebabkan media berbondong-bondong mendatanginya.

Jacqueline Wilson selalu pandai mengolah cerita suram kehidupan anak (broken home, dkk) dengan mengambil sudut pandang anak. Dan itu menjadi semacam gambaran dari “suara” anak-anak tentang kesedihan yang dicerna dengan gaya eksentrik dan polos. Imajinasi juga bermain dalam kisah Elsa, terutama ketika dia mulai mengeluarkan lelucon atau ketika dia bercerita tentang keluarganya kepada teman-teman di sekolahnya untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan.

“Aku tidak panas. Aku merasa cool banget.
Aku tidak murung. Aku gembira gembira gembira.
Aku bukan kelinci. Aku Elsa dan aku mengaum seperti singa.
Hei, apa yang kaudapatkan jika mengawinsilangkan singa dengan burung nuri?
Aku juga tidak tahu, tapi jika dia berkata, “Ayo senyum”. Kau sebaiknya TERSENYUM.”
Readmore → Bintang Keluarga

Saturday, September 17, 2016

Smart Parenting with Love

Judul: Smart Parenting with Love
Penulis: Bunda Arifah
Penyunting: Krisna Somantri
Penerbit: Progressio Publishing (Lini Sygma Publishing)
ISBN: 9786029513691
Cetak: Pertama, Mei 2010
Tebal: xiv + 138 hlm
Bintang: 4/5
   

Pergaulan bebas, narkoba, tontonan tak mendidik, menjadi beberapa bagian dari banyaknya penyebab bejatnya perilaku dari para remaja di era yang katanya modern ini. Lebih menyedihkan lagi ketika media lebih menyukai mempertontonkan tingkah polah negatif remaja yang semakin tidak terkendali, daripada wacana yang memperlihatkan kepositifan demi mendidik/ menginspirasi  konsumen dari media.
 
Sebagai orangtua, terutama ibu, seringkali muncul ketakutan, apakah sudah memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik pada anak. Melihat keganasan pergaulan yang semakin merajalela, rasanya ingin sekali 'menyimpan' anak-anak di rumah. Tapi, sedikit mengambil kutipan dari buku Guru Kecilku #2, “Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya.” Mungkin inilah tantangannya memiliki putra/i di zaman sekarang, di mana kecanggihan pun bisa menjadi pendukung orangtua untuk lebih bersemangat mencari ilmu demi membentengi sang anak.
 
"Semua perubahan membutuhkan pembiasaan dan hati yang istiqomah. Karena dalam pelaksanaannya, berubah menjadi lebih baik banyak sekali hambatan dan tantangan." (h.  43)

Pembentukan karakter dan akhlak yang kuat untuk menyiapkan anak menghadapi kehidupan, perlu dilakukan orangtua. Caranya pun tak lagi sama seperti zaman dulu, yang mana tingkat kekritisan anak tidak setinggi dan seberani sekarang. Tidak cukup sekali dua kali untuk membimbing dan menanamkan pengertian kepada anak, butuh pembiasaan, kreativitas, dan kesabaran ektra dari orangtua.
 
Salah satu tips yang diberikan Bunda Arifah dalam buku ini, adalah berikan pemahaman pada anak ketika mereka dalam keadaan aman dan nyaman karena saat itu kondisi kerja otak anak-anak sedang maksimal. Melalui buku Smart Parenting with Love, Bunda Arifah mengajak pembaca untuk menjadi smart parent dengan pembahasan materi yang juga merujuk dari pengalamannya mendidik keempat buah hatinya.
 
Orangtua tak selalu benar karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, begitupun dengan penulis yang pernah salah kaprah, tapi keinginan untuk terus memperbarui ilmu, menjadikannya banyak belajar dan memperbaiki diri ketika berhadapan dengan anak. Berdiskusi adalah salah satu cara yang meletakkan orangtua dan anak pada posisi yang sama. Mendengarkan dan memahami pemikiran anak juga menjadi bahan penting dalam pertimbangan orangtua.
 
“Secepatnya mengajari mereka cara berdiskusi, berpikir, memilih, dan mengambil keputusan sendiri, agar mereka segera mengenali hal penting yang diperlukan.” (h. 22)

Cara komunikasi yang sering salah, juga perlu diperbaiki, karena seringkali cara anak berkomunikasi bercermin dari orangtuanya. Contoh dari pengalaman pribadi saya, saat melihat Miza marah, ternyata tak jauh berbeda seperti ketika saya marah. Salah satu penyebabnya karena balita menganggap cara ayah-ibunya-lah yang benar. Selain itu, teknik berbicara pada anak, dengan menurunkan tubuh setinggi anak dan memandang matanya, bisa membuat mereka merasa lebih dihargai dan fokus saat berkomunikasi.
 
“Jangan mematahkan pertanyaan anak ketika kita membacakan cerita, bahkan kita harus menstimulasi anak untuk bertanya. Ini merupakan cara melatih anak berpikir kritis dan analitis.” (h. 27)

Masalah Kemandirian juga dibahas dalam buku ini karena menjadi salah satu karakter yang dibutuhkan untuk bertahan dalam hidup. Termasuk membimbing anak untuk menerima kesedihan atau sesuatu di luar keinginannya. Hal ini dikenal dengan Adversity Quotient (AQ), kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Hanya saja, buku ini membahas bagian permukaannya mengenai hal tersebut dan pembaca perlu memperdalam ilmu melalui referensi buku yang digunakan penulis.
 
“Setiap manusia, tanpa terkecuali perlu merasakan lima hal dari lingkungan sekitarnya untuk dapat merasa aman dan bahagia dalam hidup, yaitu merasa dikenali, didengar, diterima, dimengerti, dan dihargai,” (h. 52) termasuk anak-anak.

Readmore → Smart Parenting with Love

Thursday, May 26, 2016

The Creative Family

Judul: The Creative Family
Penulis: Amanda Blake Soule
Penerjemah: Tutut Lestari
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-574-7
Cetak: Pertama, Mei 2013
Tebal: xxvi + 546 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 39.000 (Diskon di Toko Buku Online)



“Anak harus tahu bahwa ia adalah keajaiban, bahwa sejak awal dunia hingga akhir zaman, tidak ada dan tidak pernah ada anak lain seperti dirinya” – Pablo Casals

Bagaimana mendorong imajinasi dan menumbuhkan ikatan keluarga, adalah tagline yang pas untuk buku ini karena di dalamnya penulis tidak hanya menyodorkan kreativitas keluarga tapi juga menonjolkan efek dari aktivitas bersama tersebut. Menyenangkan membaca buku ini, sampai saya dibuat iri dengan kreativitas si ibu dan anak-anaknya, apalagi gaya tuturnya sangat bersahabat.

Buku terbagi dalam empat bab, masing-masing merangkum cara mencari inspirasi, tips-tips membangkitkan imajinasi dan saran-saran yang perlu dilakukan untuk mendukung kreativitas anak yang suka tiba-tiba bisa muncul, semisal menyediakan bahan-bahan yang sering dijadikan bahan berkreasi dan meletakkan sesuai jangkau anak. Resiko berantakan pasti ada sehingga di beberapa bagian penulis memberikan tips meminimalisirnya.

Meski mungkin tidak semua saran/teknik penulis bisa diikuti, tetap saja banyak hal yang bisa diambil dari membaca The Creative Family ini. Hampir di setiap sub bab, penulis akan memberikan contoh aktivitas yang dilakukannya bersama keluarga, juga terselip panduan membuat prakarya dengan penjelasan yang cukup detail, salah satu prakarya rajut membuat saya ingin kembali belajar merajut.

“Saat kita memberi mereka (anak) ruang dan dorongan untuk mengeksplorasi kreativitas mereka sendiri, mereka bisa menjadi seniman yang paling menginspirasi, ilmuwan yang selalu ingin tahu, dan filsuf yang paling orisinal.” (Prakata)

Pembahasan/selipan yang paling saya suka dalam buku ini adalah momen-momen penghargaan yang diberikan untuk anak mereka. Salah satu kejadian yang berkesan menurut saya dari pengalaman penulis adalah ketika sebuah gambar anaknya dikreasikan menjadi sulaman pada bantal hias keluarga. Saya jadi terbayang ekspresi wajah Miza setiap kali mendapat pujian setelah menggambar/membuat sesuatu atau saat gambarnya ditempel di tembok. Suatu bentuk penghargaan yang akan memompa kepercayaan-dirinya.

Pembahasan juga menyelipkan contoh-contoh permainan, yang tidak hanya memuat sisi kreativitas tapi juga bertujuan menghangatkan hubungan keluarga. Salah satu permainan sederhana yang direkomendasikan penulis untuk ‘mengikat’ keluarga adalah Kisah Tanpa Akhir dan permainan ini berhasil saya lakukan bersama si sulung bahkan membuat dia ketagihan untuk berimajinasi terutama dengan cerita binatang. Beberapa saran yang memungkinan dilakukan sangat ingin saya terapkan di rumah.

“… betapa indahnya jika kita semua bisa meyakini dan menerimanya, karena seni memiliki kekuatan yang luar biasa --- Kekuatan untuk mengekspresikan, kekuatan untuk menyembuhkan, kekuatan untuk berbicara, dan kekuatan untuk menghubungkan orang.” (h.78)
Readmore → The Creative Family

Tuesday, May 3, 2016

Sheila, Kenangan yang Hilang

Judul: Sheila, Kenangan yang Hilang
Penulis: Torey Hayden
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita
ISBN: 979-3269-07-3
Cetak: Ketiga, Desember 2003
Tebal: 528 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. -




“Antara dahulu dan sekarang saya selalu percaya bahwa saya telah menyelamatkannya dari bencana terburuk. Kini, setelah menyadari bahwa bahkan ketika dia masih mengikuti kelas saya dia tetap menderita, saya merasa kesakitan. Kesakitan ini semakin menyiksa sekarang setelah saya tahu bahwa bahkan saya tidak tahu tentang penderitaannya.” (Torey ~ h. 264 hlm)

Saya sama sekali tidak menyangka kelanjutan Sheila akan seperti ini. Bahwa kelas Torey yang saya pikir telah mengubah Sheila, ternyata tidak membawa dampak besar bagi hidupnya. Bahkan, Sheila lupa dengan kelas yang sempat memberikan keceriaan dalam hidupnya. Sheila menganggap Torey telah merusak hidupnya, menjebloskannya ke dunia yang tak dikenal kemudian meninggalkannya sendiri, sama seperti Ibunya.

“Ini sungguh menyakitkan. Pengalaman itu mempunyai arti yang begitu penting bagi saya sehingga saya beranggapan bahwa itu juga sama pentingnya bagi dia. … Tanpa saya, tanpa lima bulan yang kami alami bersama, kemungkinan besar Sheila akan berada dalam sel di sebuah rumah sakit Negara. … Saat saya menyadari kepongahan dari asumsi saya. Selanjutnya, saya berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa masa lima bulan itu mungkin memberi lebih banyak arti bagi saya daripada bagi Sheila.” (Torey ~ h. 128)

Buku ini masih berkutat dengan pendidikan anak dengan keterbelakangan mental. Kali ini, Torey membuka kelas bersama Jeff, dan melibatkan Sheila di dalamnya, dengan harapan dia bisa mengingat kenangan di kelas Torey dahulu. Saya jauh … jauh lebih suka kisah Sheila, Kenangan yang Hilang daripada yang sebelumnya. Seri ini lebih kompleks. Pertemuan Torey dengan Sheila ternyata menguak banyak sekali ganjalan dalam diri masing-masing.

Torey sekarang berhadapan dengan remaja, yang tak bisa dikendalikan seperti saat Sheila kecil. Naik turunnya emosi remaja tergambar dengan gamblang pada buku ini. Terkadang saya sendiri salut dengan kesabaran Torey yang masih bersedia menerima kembali Sheila dengan tingkahnya yang begitu menjengkelkan dan sangat labil.

“Kamu dan Sheila sama-sama mengidap penyakit yang sama. Yang tersimpan dalam ingatan Sheila hanyalah guru yang hebat yang tidak pernah marah padanya dan kini dia jengkel saat menemukan betapa biasa dan manusiawinya kamu; tapi kamu tahu, Hayden, kamu pun melakukan hal yang sama. Yang mewarnai perilakumu terhadapnya sekarang adalah fakta bahwa yang kamu ingat pun bukan Sheila sebagai anak yang sebenarnya, melainkan si tokoh berusia enam tahun dalam bukumu.” (Jeff ~ h. 183)

Sekali lagi, kisah hidup Sheila memberikan banyak makna/pelajaran bagi saya. Selain itu, kisah ini memberikan gambaran bagaimana manusia tak selamanya tahu apa yang terbaik untuk dirinya/orang lain, tapi melakukan/memberikan yang terbaik adalah pilihan yang berharga.
Readmore → Sheila, Kenangan yang Hilang

Saturday, April 23, 2016

Catatan Hati Ibunda


Judul: Catatan Hati Ibunda
Penulis: Asma Nadia, dkk
Editor: Diyan Sudihardjo, Hilda Emil
Penerbit: Asma Nadia Pusblishing
ISBN: 978-602-9055-19-1
Cetak:Pertama, September 2013
Tebal: viii + 304 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 56.000


Dan begitu gemasnya aku, ketika mendengar alasan utama yang dipaparkan sekolah ketika meminta anakku mengundurkan diri adalah karena ia tidak normal. (Aku Percaya Padamu, Malaikat Kecilku ~ h. 98)


Kutipan di atas diambil dari ujian seorang Ibu yang diamanahi putri hiperaktif nan cerdas tapi kesulitan untuk merangkai kalimat dalam kesehariannya. Kesulitan semakin rumit ketika si kecil tidak bersedia mengikuti gurunya karena diperlukan teknik khusus 'merayunya'. Sayangnya, pihak sekolah sepertinya 'tidak ingin' dipelajari teknik baru di luar standar mereka. Mungkin istilah pasnya, gak mau ribet.


Saya jadi teringat dengan kalimat dari buku Pak Munif Chatib, "Anak kita harus memiliki dua kaki yang kuat untuk mendaki. Ketika orangtua dan guru menjadi sahabat sejati, maka mereka berdua akan menjadi kaki yang kuat untuk anaknya mendaki." Jika sekolah hanya menerapkan pembelajaran dengan standar 'anak normal', pendidikan tidak ada berkembang dan bersifat otoriter. Bersyukur akhirnya, sang Ibu tetap berjuang dan menemukan sekolah yang tetap peduli dalam mendidik anak-anak dengan keistimewaan lebih.


Aku bukan siapa-siapa, tapi aku ibu anakku. Dan aku yakin Allah menganugerahkan seorang anak istimewa karena Ia tahu aku akan berjuang.” (Aku Percaya Padamu, Malaikat Kecilku ~ h.100)


Belajar menjadi orangtua adalah pengalaman yang luar biasa. Ada rasa bahagia, antusias, takut, cemas, bahkan bingung. Ya, Bingung, seperti dalam judul Sekolah menjadi Ibu, salah satu kisah yang membuat kepala saya mengangguk-angguk. Sebenarnya, kisah ini hanya berisikan kegelisahan penulis. Sejak hamil penulis ketiban banyak saran, dari orangtua, dari teman, dari dokter, dan pusingnya, dia tidak tahu harus mengikuti yang mana.


“.... Kemudian datanglah bulan terakhir kehamilan.

Kata Mertua, aku harus minum rendaman air rumput fatimah

Kata teman, aku harus banyak minum madu supaya jalan lahirnya lancar

Kata saudara, madunya harus dicampur telur ayam kampung mentah

Kata Papa, aku harus banyak jalan spaya bayinya bisa turun ke jalan lahir

Kata Mama, lebih baik latihan mengepel di rumah

Kata dokter, aku harus banyak istirahat karena tensi yang terlalu rendah

Suami tidak berkata apa-apa. Dia sendiri pusing dengan begitu banyaknya saran (Sekolah Menjadi Ibu ~ h.64)


Situasi yang masih berlanjut setelah kelahiran, bahkan bisa jadi setelah anak tumbuh dan dewasa. Merasakan hal yang sama, bukan? Tapi kegelisahan seorang Ibu tak hanya karena faktor luar, tapi juga faktor dalam diri. Pertanyaan tentang apakah sudah benar dalam mendidik anak, dimana letak kesalahan, kenapa anak tidak bisa menurut, bermunculan di kepala. Menyusutnya rasa percaya diri dan ada ketakutan karena sudah atau mungkin akan melakukan kesalahan, sering ‘menyerang’ para Ibu. Saat kesabaran menghadapi polah anak mulai tergerus kelelahan, teriakan atau pemukulan dianggap sebagai penuntas masalah.


Tak jarang mata saya langsung memanas, ingin menangis. Selain karena emosi yang tak terlampiaskan, berbagai perasaan berkecambuk. Saya mendadak merasa seperti ibu yang tidak sabaran, ibu yang bodoh, tidak amanah terhadap titipan Allah, dan berbagai tudingan buruk lainnya. Bagaimana tidak, harusnya saya sadar bahwa Dinda masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa ia telah melakukan kesalahan. (Sesaat, Sebelum Emosi Meledak ~ h.142)


Salah satu konflik yang sering terjadi antara orangtua dan anak adalah komunikasi. Perbedaan pendapat antara orangtua dan anak sudah menjadi hal lumrah. Bahkan, ketika memiliki anak, bisa jadi mengalami perbedaan pendapat dengan ibu kita dalam mengasuh/menangani anak. Kita yang mempelajari pola asuh melalui buku/internet, seringkali bertentangan dengan ibu yang masih menerapkan pendidikan zaman dulu. Tak dipungkiri, peran teknologi menjadikan anak lebih kritis dalam menanggapi situasi. Orangtua dan sekolah bukan lagi sumber pengetahuan satu-satunya bagi anak. Maka, tidak perlu kaget, ketika suatu saat anak juga akan berbeda pendapat dengan orangtua.


Kadang berpikir, apakah aku sekadar mencari-cari alasan ketika tengah berargumen dengan anakku? Apakah sebetulnya kami sebagai orangtua, tengah melindungi kepentingan diri sendiri ketika memaksakan satu kehendak kepada anak-anak? (Demonstran! ~ h.179)


Kisah-kisah dalam buku Catatan Hati Ibunda, memperlihatkan sebagian ragam konflik batin atau lahir yang melanda keluarga. Tak hanya bercerita tentang pengalaman ibu beranak bayi/balita, tetapi juga remaja dan dewasa. Pembaca tidak akan disuguhi solusi gamblang di dalamnya, tapi pengalaman selalu menjadi pelajaran berharga, meski pengalaman tersebut datangnya dari orang lain.


Jangan berpikir bahwa ketika anak sudah tumbuh remaja/dewasa, orangtua tak perlu memusingkan perkembangannya, karena permasalahan pada setiap usia anak memiliki tingkatannya. Jadi, tidak ada yang kata berhenti belajar terutama bagi orangtua karena karakter utama dari seorang anak terbentuk dari dalam rumah (keluarga).


"Janganlah engkau berpikir tentang hasil akhir dari usahamu mendidik, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidik." (Prinsip-Prinsip Dasar Parenting, Ust. Rahmat Abdullah)
Readmore → Catatan Hati Ibunda

Friday, April 8, 2016

Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Judul: Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku 
Penulis: Saniyasnain Khan
Penerjemah: Shinta Anita
Penerbit: Muara (Imprint KPG)
ISBN: 9011206050
Cetak: Pertama, November 2012
Tebal: 319 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp. -


Memperkenalkan Al-Qur'an sejak dini, seharusnya sudah menjadi barang wajib bagi muslim/ah, terutama yang telah diamanahi anak. Mulai dari membiasakan telinga anak dengan bacaan-bacaan Al-Qur'an sampai membacakan isi yang terkandung di dalamnya. Salah satu cara menyampaikan sesuatu yang disukai anak adalah bercerita, dan media yang cocok adalah buku dengan ilustrasi/gambar yang mendukung cerita. 

Salah satu cerita dan ilustrasi yang menggambarkan keMahaBesaran Allah SWT.

Sebagian besar kisah yang dituturkan dalam buku ini adalah kisah Nabi yang terkandung dalam Al Qur'an. Dari kisah Nabi Adam as, sampai kisah bapak pada Nabi yang banyak disampaikan dalam buku ini, yaitu Nabi Ibrahim as. Selain berkisah tentang nabi, ada kisah tentang Fir'aun dan Qarun yang menjadi sisi peringatan bagi orang-orang yang kerap menyombongkan diri.

Salah satu kisah tentang Nabi Ibrahim as.
Azab Qarun, tokoh yang memiliki kekayaan berlimpah tetapi sombong
Sudah pasti yang menyenangkan dari buku ini adalah ilustrasi warna-warninya yang membuat anak betah untuk berlama-lama melihat, terutama bagian yang memperlihatkan binatang. Bagian yang paling mengena untuk saya pribadi adalah bab 25 Nasihat Luqman, yang memang berisikan nasihat Luqman untuk putranya yang tercantum pada Surat al-Luqman.

Sebagian daftar isi dari buku Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Readmore → Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Thursday, March 31, 2016

5 Guru Kecilku #2

Judul: 5 Guru Kecilku #2
Penulis: Kiki Barkiah
Editor: Aditya Irawan
Penerbit: Mastakka Publishing
ISBN: 9786027327412
Cetak: Desember 2015
Tebal: xxvi + 237 hlm
Bintang: 5/5
Harga: Rp. 80.000


"Kiki... Sesungguhnya Allah tidak meminta kamu untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Allah hanya meminta kamu taat! Sehingga Allah sendiri yang akan menyelesaikan persoalan kamu." (h. 28)

Masih sama seperti 5 Guru Kecilku bagian pertama, seri terbaru ini juga sangat menginspirasi, minim teori tapi padat dengan realitas. Pada buku ini saya menemukan Ali sudah memasuki masa remaja, di mana kemandirian dalam belajar terbaca luar biasa. Momen Ali yang paling mengena dalam buku ini adalah saat kerinduan Ali dengan sosok Ayah yang tak lagi bisa memberikan perhatian penuh kepadanya, karena banyaknya adik yang juga membutuhkan perhatian. Momen yang mungkin juga akan dilalui Sulung saya.

Syafiyah agak jarang dikulik dalam buku ini, seingat saya hanya sekilas-sekilas, dan sekalinya muncul ketika Teh Kiki mencurahkan cita-citanya terkait Syafiyah kelak --- tapi tetap bisa dijadikan referensi mendidik putri. Pada bagian kedua ini Teh Kiki masih 'bergulat' dengan emosi Shiddiq, sedangkan Rafiq juga mulai menunjukkan aksinya, perebutan perhatian orangtua kerap menjadi alasan 'pertempuran' mereka.

Mendengarlah... Diammu sejenak untuk duduk bersama dan mendengar perasaan mereka, mungkin kelak turut dapat menyelamatkan masa depan mereka (h.22)

Cerita paling menyentuh bagi saya adalah Andai Saja Aku Mau Mendengar Satu Kalimat Lagi, kisah yang menohok apalagi mengingat kesabaran saya yang sering pupus ketika berhadapan dengan Si Sulung, Miza. Niat baik anak terkadang disalahpahami orangtua ketika mereka melakukannya dengan tindakan dan komunikasi yang tidak tepat. Padahal, di usianya yang masih kecil, mereka sedang belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan benar, reaksi orangtua yang tidak tepat bisa memupuskan kebaikan anak.

Setiap cerita memberikan referensi bagi pembaca untuk berhadapan dengan anak. Mengelola emosi, memenuhi aktivitas dengan berdiskusi, kerjasama apik dari suami-istri dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai membuat setiap pengalaman terasa bisa diandalkan untuk dijadikan bekal mendidik anak. Cerita Satpam Gadjet yang Cerewet membuat saya tertawa tetapi juga mengagumi komitmen dan ketekunan dari Teh Kiki dalam membimbing setiap buah hatinya menjadi pribadi berdaya guna, sekaligus bertaqwa.

Modal yang paling utama adalah kepercayaan kepada Allah. Bahwa Allah telah memasangkan seorang anak dengan orangtuanya. Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya. (h.96)
Readmore → 5 Guru Kecilku #2
 

Sahabat si Cilik Template by Ipietoon Cute Blog Design