Search This Blog

Monday, November 28, 2016

Orang Jujur Tidak Sekolah

Penyunting: Pratiwi Utami
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-062-6
Cetak: Kedua, Maret 2015
Tebal: xii + 264 hlm
Bintang:  4/5
Harga: Rp. 49.000 (Diskon 20% di Toko Buku Online)
 

Berawal dari ketidakjujuran UAS yang dilaluinya, Rizki memutuskan untuk mencari dan meraih pendidikannya sendiri. Melihat bocoran jawaban UAS yang beredar pada teman-temannya, membuat idealismenya memberontak. Dia gerah bersekolah, tapi pendidikan masih menjadi bekal penting dalam pemikiran dan hidupnya. Pendidikan tetap harus diraihnya, meski tanpa hadir di sekolah. Pilihan yang berujung pada keputusan keluar dari SMA dan mendapatkan pendidikan yang lebih ‘membebaskan’.

Sekolah terkadang terasa mengekang dalam metode belajar yang sebatas kelas, padahal belajar bisa didapat dari mana saja. Rizki merasa lebih suka menggali ilmu pengetahuan dengan caranya sendiri. Berdiskusi atau bertanya langsung kepada guru yang bersangkutan menjadi pilihannya saat duduk di bangku SMP karena dengan cara ini membuatnya mudah untuk memahami materi. Meski terkadang caranya yang anti-mainstream mengundang kejengkelan dari guru karena ketidakpuasan Rizki dalam bertanya.
“Aku sering membolos karena tak punya ongkos membayar angkot. Lalu, apa aku tak berhak mengenyam pendidikan yang layak? … Apakah otomatis hal itu membuatku tidak bisa berkompetisi denga mereka? Bagiku, belajar adalah fitrah manusia. Kita terlahir dengan insting untuk belajar dalam diri kita. … Belajar dalam kamusku berada dalam konteks yang sangat luas.”

Masa kecilnya yang tidak terlalu menyenangkan bisa jadi membentuk karakternya yang ‘keras’ dan setiap ada kemauan akan diusahakan sekeras mungkin. Selain itu, kondisi ekonomi yang tidak menentu dan utang yang terus ‘gali lubang tutup lubang’ membuat pilihannya terlihat lebih realitis. Untungnya, Andri termasuk anak yang berani bertanggungjawab dengan pilihannya. “Aku makhluk yang benar-benar lepas dan keluar dari sistem yang ada. Aku hanya berpegang pada kemampuan berpikir dan naluri diri sendiri untuk menjalani kegiatan pendidikan yang saat itu kujalani.”

Meski terlihat tangguh, ada kalanya Andri kelelahan dengan sistem yang dipilihnya. “Saking stresnya, aku telentang di jalan perumahan saat hujan deras sedang turun. Aku tak kuat … Aku tidak bisa menampik itu. Setinggi apapun idealism yang kupegang, nyatanya tak semulus yang telah kurencanakan sebelumnya. Tangis, tawa, stress, tertekan sampai depresi, semua rasa itu telah kualami sewaktu belajar secara autodidak.”

Sekolah Menengah Atas (SMA) dilaluinya hanya dalam waktu setahun, dan berhasil masuk ke perguruan tinggi, Universitas Indonesia, Jurusan Hukum, yang juga dilalui dalam waktu singkat, tiga tahun. Pengalamannya dalam meraih pendidikan yang tidak mulus, membangkitkan misi dalam hidupnya untuk menyampaikan pendidikan tanpa harus ke sekolah dan ketergantungan pada dana.

Setelah lulus, Andri mendirikan Masjidschooling, semua prasarana dipenuhi dengan swadaya mandiri, hanya berbekal papan tulis, pena, dan tutor untuk memulai pendidikan. Meski peserta hanya satu orang, kelas harus tetap dibuka. Jika tidak ada peserta Andri dkk akan bergerak untuk menjaring peserta langsung dari pintu ke pintu. Modal nekat, tekad kuat, seperti menjadi slogan Rizki melaksanakan apa yang diinginkannya, ditambah dengan ‘yang penting niatnya baik’.
“Masjidschooling dan YPAB (Yayasan Pendiri Anak Bangsa) bukanlah pabrik ijazah. Tujuan kami adalah menciptakan ‘transfer of knowledge’ yang riil dari pendidik dan peserta didik. … Harus kuakui, mengubah mindset mendapatkan ijazah dengan ‘instan’ tersebut tidak mudah. Belum banyak yang menyadari manfaat pendidikan.”

Pastinya hambatan selalu hadir, tapi salah satu alasan Andri mampu melalui semuanya adalah kestabilan emosi yang dimilikinya. Banyak orang pintar di negeri ini, tapi Andri ‘cukup’ pintar dalam membesarkan hatinya setiap kali mengalami kegagalan. Kemampuan inilah yang membuatnya mampu bertahan menghadapi cercaan semasa dia mencari pendidikan, bahkan saat dia bergerak dalam Masjidschooling dan YPAB.

Meski jenis buku ini masuk ke biografi, tapi isinya banyak mengkritik pendidikan di Indonesia. Sudah pasti sudut pandangnya tergolong subyektif karena didasari pengalaman pribadi tanpa adanya pencarian data terkait pelaksanaan pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Tapi, tujuan buku ini sebenarnya untuk menyebarkan ide yang dimiliki Rizki dan memberikan sebuah pandangan baru tentang media pendidikan yang tidak melulu harus di sekolah formal.
“Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Kadang kita kehilangan karakter diri, integritas, dan kejujuran hanya karena mengikuti tren yang berlaku di masyarakat. Bagaimanapun hasil akhirnya, setidaknya hiduplah sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini.” (h.46)

Readmore → Orang Jujur Tidak Sekolah

Friday, November 18, 2016

Sherlock, Lupin dan Aku; Kawanan si Nyonya Hitam

Judul: Sherlock, Lupin dan Aku; Kawanan si Nyonya Hitam
Judul Asli: Sherlock, Lupin & Io: Il Trio Della Dama Nera
Penulis: Irene Adler
 Penerjemah: Tanti Susilawati
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
ISBN 10: 602-249-322-6
Cetak: Ketiga, Juli 2016
Tebal: 263 hlm
Bintang: 3/5
Harga:  Rp. 45.000 (Diskon di Toko Buku Online)


“Siapa bisa membayangkan kisah yang lebih menakjubkan daripada kisah itu? Seorang korban ditemukan tewas di pantai, yang semasa hidupnya memiliki dua nama dan dua kamar di hotel berbeda, di kota yang sama! Kemudian, seorang lelaki lain, yang tak kalah misteriusnya, terlihat olehku saja, tapi aku yakin dia sudah melihat kami semua.” (Irene – h.98)
Sherlock Holmes dan Arsene Lupin, nama yang pasti familiar bagi penggila buku misteri, yang satu detektif, satu lagi, pencuri dan keduanya termasuk karakter tokoh fenomenal. Tapi, itu berlaku saat mereka telah menjadi dewasa. Nah, buku ini menyuguhkan mereka dalam bentuk anak-anak, masih jauh sebelum nama mereka menjadi terkenal. Kisahnya sendiri, diceritakan dari sudut pandang Irene Adler, seorang yang kelak akan menjadi wanita yang dicintai Sherlock Holmes.
 
Kasus pertama mereka adalah kejutan berupa penemuan mayat terdampar di pantai. Dalam kantong si mayat, mereka menemukan batu-batuan yang digunakan untuk menenggelamkan mayat dan sepucuk surat berisi, “Laut akan menghapus kesalahanku.” Semakin mengejutkan saat Irene ketakutan melihat sesosok berjubah yang mengawasi mereka dari hutan. Lain halnya dengan Sherlock dan Lupin yang lebih menampakan rasa penasaran dengan si mayat.
“Aku tak paham bagaimana mungkin mereka bisa begitu tenangnya. Jantungku sendiri berdetak bertalu-talu, dan tangan serta kakiku terasa beku. Tetapi dua bocah ini malah tampak seperti … dokter di ruang operasi.” (Irene – h.66)
Sherlock dan Lupin merasa tertantang untuk menyelidiki kematian si mayat. Di sela-sela kehebohan desa dengan penemuan mayat, ketiga bocah ini pun beraksi dengan tenang supaya tidak memancing kecurigaan. Penemuan dua identitas, ditambah kegemparan akibat hilangnya kalung berlian milik Nyonya Martigny, menjadikan kasus semakin membingungkan. Sangkaan adanya keterkaitan antara dua peristiwa, yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan, ini pun muncul.
 
Sampai suatu ketika, aktivitas penyelidikan Sherlock, Lupin dan Irene mengganggu sebuah kelompok rahasia. Penyerangan pun terjadi dan menyebabkan Sherlock dan Lupin harus mengalami luka-luka lebam, untunglah mereka memiliki keahlian berkelahi. Berkat kejadian itu, akhirnya celah terbuka, melalui salah satu pelaku pemukulan di jalanan yang dikenal Lupin. “Aku tidak tahu seberapa jauh keterlibatan Spirou dan kawanannya itu dalam kasus ini, tapi sepertinya mereka tahu lebih banyak dari kita.” (h.170) Mereka pun mulai membuntuti Spirou hingga ke sebuah gedung tua dimana sebuah kelompok rahasia mengadakan pertemuan.
 
Penyelidikan mereka mulai menemukan titik terang dan menjadi lebih mendebarkan karena adanya aksi kejar-mengejar di atap rumah. Bahkan berlanjut dengan mulai terungkapnya misteri di balik identitas si mayat. Alur penyelidikan berjalan lambat karena seringnya adanya selingan tentang keadaan keluarga masing-masing tokoh, Sherlock, Lupin dan Irene. Namun, jalan-jalan mereka di pantai, mendayung di lautan sampai ke Rumah Ashcroft tetap mengasyikkan. Tak ketinggalan, kejutan tetap hadir sampai lembaran terakhir buku.
“Kasus-kasus dipecahkan melalui banyak detail, dan detail-detail itu sebenarnya sederhana saja: hasil-hasil sepele dari penyelidikan salam sebuah perkara.” (h. 77)

Readmore → Sherlock, Lupin dan Aku; Kawanan si Nyonya Hitam

Saturday, November 12, 2016

Brooke Shields

Judul: Kisah Nyata sang Bintang Melawan Depresi Pasca-Melahirkan
Judul Asli: Down Came the Rain
Penulis: Brooke Shields
 Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penerbit: Qanita
ISBN: 979-3269-59-6
Cetak: Pertama, Februari 2007
Tebal: xvi + 296 hlm
Bintang: 4/5




Memiliki anak pasti menjadi dambaan sebagian besar pasangan, seperti itu juga yang dirasakan Brookie dan Chris. Namun, perjalanan mereka mendapatkan anak tidak mudah. Perjuangan Brookie dan Chris dipaparkan pada awal memoir Brooke Shields, seorang aktris papan atas Hollywood. Leher rahim Brookie yang mengalami penyempitan membuatnya sulit untuk dibuahi. Beragam metode dan pengobatan dilakukannya, dengan kestresan yang sering membarengi prosesnya.

“Aku adalah seorang perfeksionis dan selalu menunjukkan prestasi luar biasa sehingga aku kesulitan bertoleransi pada kegagalan.” (h. 68)
IVF (In Vitro Fertilization)/ Prosedur Bayi Tabung dilakoni Brookie dengan proses yang panjang dan melelahkan, yang mencakup obat-obatan, suntikan dan pembedahan. Proses yang menjengkelkan tapi harus dijalani karena tidak adanya pilihan. Pada bagian ini, rasanya saya ikut miris membaca bagaimana ‘sengsara’ proses yang harus dijalani Brookie, apalagi ketika perjuangannya ternyata berujung pada pengguguran.

“Aku sedang berada di tengah proses kehilangan anakku, dan yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Betapa mengenaskan rasanya, melahirkan tanpa bisa mengharapkan hasil yang positif. Tentunya akan lebih mudah menahan rasa sakit ini saat seorang bayi menanti sebagai imbalan.” (h. 29)
Meski mengalami kegagalan dan membutuhkan pemulihan tubuh yang tidak sebentar, Brookie dan Chris kembali mencoba sekali lagi tanpa berharap besar. Namun, kepasrahan ini malah berbuah manis dengan pernyataan dokter, “Well, hasil tes ternyata positif. Anda hamil!” Suka cita memenuhi hati pikiran Brookie dan Chris, meski masih ada ketakutan akan mengalami kegagalan kembali. Rentetan kejadian dari upaya hamil sampai melahirkan menciptakan rasa sedih, haru, tapi juga kocak karena gaya bertutur Brookie yang asal ceplos, belum lagi sang suami, Chris penulis skenario komedi, yang memang sudah lucu. Kisah yang seharusnya mengharu-biru, malah bisa membuat pembaca senyum simpul atau tertawa.

“Mengapa aku lebih sering menangis daripada bayiku? Lihatlah aku, akhirnya menjadi seorang ibu dari bayi perempuan cantik yang kudapatkan dengan susah payah, dan aku justru merasa kehidupanku telah berakhir.” (h. 91)
“Aku selalu menyangka bahwa saat seorang bayi memasuki kehidupanku, semuanya akan berada di tempat yang tepat, dan aku akan dengan mudah mengikuti kehidupanku yang baru.” (h. 124)
Kebahagiaan yang seharusnya hadir bersamaan dengan kelahiran bayi mungilnya, Rowan, ternyata tak kunjung muncul. Ketakutan dan kegelisahan malah membengkak dalam benak Brookie. Setelah melewati sembilan bulan dengan penuh gairah dan anugerah, tiba-tiba impiannya menjadi berantakan. Keterikatan dengan sang bayi, yang dipikirnya akan terjadi secara alamiah, ternyata tidak menjadi kenyataan, bahkan dia merasa tidak tahan berdekatan dengan Rowan. Kondisi drop ini tidak hanya berpengaruh pada hubungan ibu-anak, tapi juga pernikahannya dengan Chris. Chris khawatir melihat kondisi emosi istrinya, bahkan ada rasa takut jika sewaktu-waktu Brookie melakukan tindakan ekstrem. Peran Chris, sebagai suami juga sangat besar, bahkan titik balik perubahan Brookie bisa dibilang saat suaminya menangis melihat kondisinya.

“Bagi seorang aktris, hal ini bisa cukup menakutkan. … Setelah menghabiskan sepanjang hidupku dengan  bekerja, di sinilah aku sekarang menjadi pengangguran. Aku tidak punya penghasilan sendiri dan tidak sedang melakukan apapun yang kuanggap pekerjaan.
Meski berisikan keluhan Brookie, buku ini juga memuat pendapat para dokter yang sering dikunjungi Brookie. Kondisi masa lalu, kelelahan, proses melahirkan yang meninggalkan trauma, psikologisnya sebagai anak, ketakutan tanpa beralasan, pribadi yang perfeksionis menjadi sebagian penyebab depresi pasca melahirkan yang menimpa diri Brookie. Perubahan yang tidak singkat dan emosi yang naik-turun, mengiringi perjalanan Brookie untuk menemukan ikatan antara dirinya dan Rowan.

“Bagiku, menjadi seorang ibu juga berarti merasakan kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan dan kesedihan yang tak pernah terpikirkan. (h. 266)
Readmore → Brooke Shields

Saturday, October 29, 2016

Asyiknya Membantu Bunda

Penulis: Rien Dj dan Deasylawati P
Penyunting: Ayu Wulan
Penerbit: Lintang (Lini Penerbit Indiva)
ISBN: 9786021614877
Cetak: 2016
Tebal: 128 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp. 28.000 (Diskon di Toko Buku Online)


“Wah, Davin baik sekali mau bantu bundanya,” puji Bu Sani saat membeli minyak goreng. Sudah pasti Davin senang dengan pujian, padahal sebelumnya dia merasa bosan dengan liburannya yang hanya tinggal di rumah. Cerpen berjudul Asyiknya Membantu Bunda, menjadi pembuka dari kumpulan cerita yang bertemakan pendidikan akhlak untuk anak.

Asyiknya Membantu Ibu menjadi salah satu cerpen yang mengangkat tema akhlak yang harus ditanamkan pada diri seorang anak. Cerita pendek lainnya yang juga memiliki pesan akhlak, tersirat dalam Bintang untuk Najma; yang bercerita tentang kebingungan Najma menemukan kelebihan dalam dirinya, Sepatu-Sepatu Lola, kisah keteledoran Lola dengan benda miliknya; Asad yang Suka Tersesat; Asal Ambil; yang masing-masing menceritakan pada anak pengetahun tentang keuntungan dan kerugian dari akhlak yang dimiliki para tokohnya.

Bukti Dio, adalah salah satu cerpen favorit saya. Dio yang sering diejek temannya sebagai anak mama, merasa marah dan kesal. Dia memutuskan untuk berbohong pada teman-temannya dengan menciptakan rekayasa foto supaya tidak dikatakan sebagai penakut. Keinginan anak untuk diakui, terutama oleh teman-temannya, tergambar pada cerpen ini. Pesan yang mengajarkan sebuah kondisi yang tidak menyenangkan, tetap harus mereka sikapi dengan positif, tidak asal membuktikan diri, apalagi dengan keburukan, seperti berbohong.

Tak hanya pada diri sendiri, akhlak juga perlu dikaitkan pada masyarakat dan lingkungan. Pemahaman tentang nama yang baik dan buruk ketika hidup dalam masyarakat terkandung dalam Satu Nama yang Terlupa; Harapan Lok Baintan; Sebatang Pohon yang Melintang. Selain itu, kisah berjudul Dari Sebutir Nasi dan Bukan Pekerjaan Sepele adalah cerpen yang menarik. Sesuatu yang sepele seperti sebutir nasi atau menyebarkan informasi ternyata bisa memberikan dampak global. Meski tema terlihat berat, tapi gaya bercerita sederhana sudah pasti dapat dicerna oleh kepala anak-anak.

Dua puluh cerpen yang ditulis oleh Rien Dj dan Deasylawati ini, tidak hanya terbalut pada realitas kehidupan, tapi juga ada beberapa cerpen yang disampaikan dengan gaya fantasi, dongeng dan misteri. Clarita si Penjual Dongeng dan Kisah Boneka Bermata Biru menjadi cerita fantasi yang mengajarkan tentang tolong-menolong. Sedangkan, sisi misteri cukup banyak dimuat seperti pada cerpen Aksi Detektif Fian: Siapa Pencurinya?; Komplotan Jaket Merah; Misteri Lukisan Berdarah; Misteri Rambut Perak; Kutukan Empu Gandring, Pria Misterius dan Ransel Merah; Rumah Nomor Tiga Puluh.

Mengingat pentingnya penanaman akhlak terpuji pada anak sejak dini, menjadikan media cerita sebagai pilihan yang menarik. Cerita atau dongeng dapat dijadikan pengantar materi pemahanan pada anak karena caranya yang terkesan ringan tanpa paksaan.
Readmore → Asyiknya Membantu Bunda

Friday, October 7, 2016

Anakku Bertanya Tentang LGBT

Judul: Anakku Bertanya Tentang LGBT 
Penulis: Sinyo
Penerbit: Quanta
ISBN: 9786020251783
Cetak: Pertama, 2014
Tebal: 174 hlm
Bintang: 4/5
Harga:  38.800


Siapa yang tidak kenal istilah LGBT. Orientasi seksual yang ‘menyimpang’ ini cukup menarik untuk dibahas karena ada kaitan dengan psikologi. Seringkali masyarakat memandang aneh bahkan menyalahkan/mengucilkan para pelaku LGBT dikarenakan ketidaktahuannya. Lewat Anakku Bertanya Tentang LGBT, Sinyo berusaha menyampaikan informasi secara obyektif terkait orientasi seksual non-heteroseksual.

“… di Indonesia sebenarnya cukup banyak orang yang bermasalah dengan dunia LGBT, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian dari mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa dan bagaimana menyikapinya.” (h.17)

Penjabaran dimulai dari pemahaman tentang istilah yang seringkali salah/salah sasaran dalam masyarakat seperti istilah Transeksual, Transgender, Banci atau Waria yang seringkali disamakan, padahal artinya berbeda. Pemahaman arti akan membantu kita untuk lebih berhati-hati dalam memakai istilah-istilah tersebut.

Berlanjut pada sejarah LGBT dari masa praduga dan masa fakta. Berdasarkan masa fakta yang diambil dari penemuan arkeologi dll yang berhubungan dengan seks sesama jenis, LGBT mulai muncul pada abad VII SM, sedangkan berdasarkan pesatnya perkembangan komunitas LGBT, mulai terlihat pada abad XI M. Berdasarkan catatan di Indonesia sendiri komunitas LGBT mulai muncul tahun 1920-1980.

“Perkembangan dunia homoseksual semakin pesat sejak abad XI masehi. Pro dan kontra keberadaan komunitas tersebut bertambah banyak. Penggunaan istilah LGBT mulai tercatat sekitar 1990-an” (h. 46)
“Di Indonesia sendiri sebenarnya terdapat komunitas kecil LGBT walau masih berakar pada kebudayaan. … Salah satu contohnya adalah adanya gemblak di Ponorogo. Geblak adalah laki-laki muda yang dijadikan semacam “istri” oleh para warok di Ponorogo.” (h.54)

Obyektivitas isi buku sangat terasa karena penulis selalu menuturkan LGBT dari sisi pro dan kontra, seperti pandangan masyarakat, lembaga-lembaga pendukung, dan tokoh yang berkecimpung di ranah LGBT. Sebagian besar alasan dari pro LGBT adalah hak asasi manusia (HAM), setiap manusia berhak dihormati dan diapresiasi, termasuk pengidap LGBT agar terbebas dari diskriminasi/tekanan dari pihak manapun.

Ada pro, ada kontra, penjabaran penulis tentang pihak kontra tidak hanya dari sisi agama, tetapi juga ilmu pengetahuan, salah satunya lembaga NARTH, organisasi yang menolak anggapan bahwa orientasi tidak dapat diubah dan sudah menetap, mereka mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan sehingga semua berdasarkan fakta dan penelitian. Mereka pun mengusung visi supaya “menjunjung tinggi hak-hak individu yang memmpunyai ketertarikan homoseksual namun tidak menginginkannya untuk menerima perawatan psikologis.” h.95

Jika merujuk pada judulnya, anggapan awal saya fokus dari pembahasan buku ini adalah pendidikan anak, ternyata penulis lebih banyak mengurai tentang LGBT. Meski begitu, pembahasan dari mulai yang mendasar tentang tema LGBT sangat penting untuk diketahui, termasuk orangtua. Antisipasi kecenderungan seksual dari keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Seperti yang diuraikan oleh organisasi NARTH, “Tidak ada yang disebut ‘gay gene’ dan sama sekali tidak ada bukti nyata yang mendukung gagasan bahwa homoseksual hanya dipengaruhi oleh factor biologis.” (h.101)

Pengaruh luar sangat besar untuk membentuk kecenderungan seksual, antaranya, pengaruh budaya, pendidikan/pengasuhan orangtua dan figur orangtua. Selain itu, pengawasan, perhatian, dan pencarian komunitas sehat oleh orangtua dapat mengantisipasi terjadinya pelecehan seksual pada anak. Namun, jika kondisi sudah terlanjur, penulis juga menyampaikan bagaimana tindakan yang perlu diambil ketika menemukan orientasi non-heteroseksual pada anak/saudara terdekat.

“Segala hal yang berkenaan dengan dunia ini datangnya dari Allah Swt, entah itu ditanggapi suka ataupun duka. Orientasi seksual sesame jenis pun diberikan oleh Allah sebagai ujian bagi individu yang memilikinya.” (h.149)
Readmore → Anakku Bertanya Tentang LGBT

Thursday, September 29, 2016

Bintang Keluarga

Judul: Bintang Keluarga
Judul Asli: The Bed and Breakfast Star
Penyunting: Poppy D. Chusfani
ISBN: 9789792247015
Cetak: Juni 2009
Tebal: 216 hlm
Bintang: 4/5
Harga: -


“Aku kembali menjulurkan lidah, karena muak diomeli semua orang sementara aku tidak bersalah.” (Elsa – h.68)

Elsa hidup bersama ibu dan ayah tiri, ditambah dua adik kecil yang sangat disayanginya. Kemarahan secara verbal seringkali datang kepadanya sebagai bentuk pelampiasan stres orang dewasa. Kehidupan Elsa berpindah-pindah, sampai dia menomori dan memberi penilaian tempat tidurnya setiap kali berganti tempat tinggal. Kepindahan untuk kesekiankalinya, mengantarkan Elsa dan keluarga ke Royal Hotel, tempat penampungan keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal, dan inilah tempat tidur ke tujuh Elsa.

“Tempat tidur itu berderak kemudian mengerang. Sama sekali tidak membuatku memantul. Tempat tidur itu hanya bergetar dan berhenti bergerak. Tempat tidur nomor tujuh sangat mengecewakan.” (h.45)

Ibu sangat tidak menyukai Royal Hotel karena kondisinya yang hampir tidak layak huni. “Aku benci melihat Mum sedih dan murung seperti itu. Aku berusaha melucu untuk membuatnya agak ceria” (h.80) Elsa selalu ingin membuat suasana ceria dengan leluconnya, sayangnya orang dewasa malah menganggapnya mengacau. Betapa menjengkelkan orang dewasa, tebak-tebakan Elsa hanya dianggap angin lalu.

“”Apa yang ada di kepalamu, berkeliaran, dan berteriak-teriak begitu?” dia (Mack) berteriak, bergegas melintasi ruangan. Aku bisa merasakan ini bukan saat yang tepat untuk berkata bahwa aku hanya meniru tingkah laku ayah tiriku.” (h. 73)

Mack, Ayah tiri Elsa tidak menyenangkan karena suka sekali mengeplak, tapi Elsa menyayangi kedua adik tirinya, terutama Pippa. “Mack si Keplak. Itu bukan gurauan. Dia memang suka mengeplak. Terutama mengeplakku. Seharusnya orang dilarang mengeplak anak-anak. Di banyak Negara, memukul merupakan perbuatan melanggar hukum dan jika orang memukul anak-anak, ia akan masuk bui. Aku berharap tinggal di salah satu Negara itu.” (h. 13)

Meski kesehariannya tidak menyenangkan bersama Mack, tapi Elsa anak yang enerjik dan riang. Saat kedatangannya di Royal Hotel, Elsa menemukan teman baru, Naomi, gadis yang suka duduk di atas wastafel sambil membaca buku. Selain itu, ada si Tampang-Lucu yang sebelumnya adalah musuh, tapi di kemudian hari menjadi teman karena tebakan dan lelucon Elsa.

“Sekolah itu agak bikin depresi juga. Mereka menyuruhku mengerjakan tes serta segala macam ujian dan aku tidak mampu mengerjakan sebagian besar di antaranya. Mereka menganggapku tolol. Aku menganggap diriku tolol. Aku harus mengikuti beberapa kelas ekstra untuk membantuku belajar baca-tulis dan berhitung. Anak-anak yang lain menertawaiku.” (h.111)

Salah satu yang menyenangkan ketika kepindahannya ke Royal Hotel adalah saking stresnya Mum, dia lupa menyekolahkan Elsa. Namun, suatu hari Elsa harus sekolah, hanya saja pengalaman bersekolah yang tidak menyenangkan membuatnya membolos bahkan pada hari pertama masuk kelas. “Tampang-Lucu dan hampir semua anak cowok membolos setiap hari. Aku memutuskan itulah yang akan kulakukan. Aku mungkin sadar aku cerdas, tapi sekolah ini mungkin bakal memberiku jenis tes yang salah. Aku bisa dengan mudah dikira bodoh lagi.” (h.113)

Elsa memiliki cita-cita menjadi komedian terkenal dan muncul di televisi. Keinginan yang membuatnya senang terus membaca koleksi bukunya yang berisi kumpulan lelucon. Keinginannya yang besar untuk muncul di layar televisi pernah muncul, tapi sayangnya media hanya menginginkan berita lain dan melupakannya yang berusaha mati-matian melontarkan leluconnya. Hingga suatu ketika terjadi kegemparan dan menyebabkan media berbondong-bondong mendatanginya.

Jacqueline Wilson selalu pandai mengolah cerita suram kehidupan anak (broken home, dkk) dengan mengambil sudut pandang anak. Dan itu menjadi semacam gambaran dari “suara” anak-anak tentang kesedihan yang dicerna dengan gaya eksentrik dan polos. Imajinasi juga bermain dalam kisah Elsa, terutama ketika dia mulai mengeluarkan lelucon atau ketika dia bercerita tentang keluarganya kepada teman-teman di sekolahnya untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan.

“Aku tidak panas. Aku merasa cool banget.
Aku tidak murung. Aku gembira gembira gembira.
Aku bukan kelinci. Aku Elsa dan aku mengaum seperti singa.
Hei, apa yang kaudapatkan jika mengawinsilangkan singa dengan burung nuri?
Aku juga tidak tahu, tapi jika dia berkata, “Ayo senyum”. Kau sebaiknya TERSENYUM.”
Readmore → Bintang Keluarga

Saturday, September 17, 2016

Smart Parenting with Love

Judul: Smart Parenting with Love
Penulis: Bunda Arifah
Penyunting: Krisna Somantri
Penerbit: Progressio Publishing (Lini Sygma Publishing)
ISBN: 9786029513691
Cetak: Pertama, Mei 2010
Tebal: xiv + 138 hlm
Bintang: 4/5
   

Pergaulan bebas, narkoba, tontonan tak mendidik, menjadi beberapa bagian dari banyaknya penyebab bejatnya perilaku dari para remaja di era yang katanya modern ini. Lebih menyedihkan lagi ketika media lebih menyukai mempertontonkan tingkah polah negatif remaja yang semakin tidak terkendali, daripada wacana yang memperlihatkan kepositifan demi mendidik/ menginspirasi  konsumen dari media.
 
Sebagai orangtua, terutama ibu, seringkali muncul ketakutan, apakah sudah memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik pada anak. Melihat keganasan pergaulan yang semakin merajalela, rasanya ingin sekali 'menyimpan' anak-anak di rumah. Tapi, sedikit mengambil kutipan dari buku Guru Kecilku #2, “Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya.” Mungkin inilah tantangannya memiliki putra/i di zaman sekarang, di mana kecanggihan pun bisa menjadi pendukung orangtua untuk lebih bersemangat mencari ilmu demi membentengi sang anak.
 
"Semua perubahan membutuhkan pembiasaan dan hati yang istiqomah. Karena dalam pelaksanaannya, berubah menjadi lebih baik banyak sekali hambatan dan tantangan." (h.  43)

Pembentukan karakter dan akhlak yang kuat untuk menyiapkan anak menghadapi kehidupan, perlu dilakukan orangtua. Caranya pun tak lagi sama seperti zaman dulu, yang mana tingkat kekritisan anak tidak setinggi dan seberani sekarang. Tidak cukup sekali dua kali untuk membimbing dan menanamkan pengertian kepada anak, butuh pembiasaan, kreativitas, dan kesabaran ektra dari orangtua.
 
Salah satu tips yang diberikan Bunda Arifah dalam buku ini, adalah berikan pemahaman pada anak ketika mereka dalam keadaan aman dan nyaman karena saat itu kondisi kerja otak anak-anak sedang maksimal. Melalui buku Smart Parenting with Love, Bunda Arifah mengajak pembaca untuk menjadi smart parent dengan pembahasan materi yang juga merujuk dari pengalamannya mendidik keempat buah hatinya.
 
Orangtua tak selalu benar karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, begitupun dengan penulis yang pernah salah kaprah, tapi keinginan untuk terus memperbarui ilmu, menjadikannya banyak belajar dan memperbaiki diri ketika berhadapan dengan anak. Berdiskusi adalah salah satu cara yang meletakkan orangtua dan anak pada posisi yang sama. Mendengarkan dan memahami pemikiran anak juga menjadi bahan penting dalam pertimbangan orangtua.
 
“Secepatnya mengajari mereka cara berdiskusi, berpikir, memilih, dan mengambil keputusan sendiri, agar mereka segera mengenali hal penting yang diperlukan.” (h. 22)

Cara komunikasi yang sering salah, juga perlu diperbaiki, karena seringkali cara anak berkomunikasi bercermin dari orangtuanya. Contoh dari pengalaman pribadi saya, saat melihat Miza marah, ternyata tak jauh berbeda seperti ketika saya marah. Salah satu penyebabnya karena balita menganggap cara ayah-ibunya-lah yang benar. Selain itu, teknik berbicara pada anak, dengan menurunkan tubuh setinggi anak dan memandang matanya, bisa membuat mereka merasa lebih dihargai dan fokus saat berkomunikasi.
 
“Jangan mematahkan pertanyaan anak ketika kita membacakan cerita, bahkan kita harus menstimulasi anak untuk bertanya. Ini merupakan cara melatih anak berpikir kritis dan analitis.” (h. 27)

Masalah Kemandirian juga dibahas dalam buku ini karena menjadi salah satu karakter yang dibutuhkan untuk bertahan dalam hidup. Termasuk membimbing anak untuk menerima kesedihan atau sesuatu di luar keinginannya. Hal ini dikenal dengan Adversity Quotient (AQ), kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Hanya saja, buku ini membahas bagian permukaannya mengenai hal tersebut dan pembaca perlu memperdalam ilmu melalui referensi buku yang digunakan penulis.
 
“Setiap manusia, tanpa terkecuali perlu merasakan lima hal dari lingkungan sekitarnya untuk dapat merasa aman dan bahagia dalam hidup, yaitu merasa dikenali, didengar, diterima, dimengerti, dan dihargai,” (h. 52) termasuk anak-anak.

Readmore → Smart Parenting with Love
 

Sahabat si Cilik Template by Ipietoon Cute Blog Design