Search This Blog

Wednesday, December 14, 2016

Wonderful Life

Judul: Wonderful Life | Penulis: Amalia Prabowo | Penyunting: Hariadhi & Pax Benedanto | Penerbit: POP | Terbit: 2015 | Tebal: 169 hlm | Harga: Rp. 50.000 (Diskon di Toko Buku Online) | Bintang: 3/5


 Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
Amalia Prabowo, terlahir dari keluarga yang tergolong perfeksionis, terutama dari didikan Sang Bapak. Perencanaan menjadi hal yang penting dalam setiap pengambilan keputusan. Semua harus dipikirkan dan dirumuskan dengan baik supaya mendapatkan hasil yang baik pula. Pendidikan adalah nomor satu. Kesempurnaan seperti menjadi target utama setiap kali Amalia melakukan sesuatu. Sebuah pendidikan yang cukup ‘keras’ menurut saya.
“Sejak kecil hidupku sangat teratur dan terencana---istilahnya sekarang selalu melakukan plan-do-review. Hampir tidak pernah aku terjebak dalam situasi panik, terburu-buru, senewen dalam mengerjakan tugas. Semua rapi jail, aman terkendali.” (h.10)
Karakter dan kebiasaan yang terbentuk dari pendidikan masa kecilnya tidak sia-sia. Perjalanannya dari sekolah hingga menjejak dunia karir terlihat sempurna, meski selalu ada perjuangan di dalamnya. Puncaknya saat Amalia menjadi CEO wanita pertama di Indonesia sebuah perusahaan advertising multi nasional. “Aku, Amalia, anak daerah yang tak pernah mengenyam sekolah di luar negeri--- telah membuktikan bahwa impian tidak datang dari langit. Impian kita harus diraih, diperjuangkan, dan dicintai.” (h. 29)
Kesuksesan karir ternyata tidak sejalan dengan kehidupan rumah tangganya. Perceraian pertama ditempuhnya setelah mengalami ketidaksinkronan hati, tekanan keluarga, dan minimnya komunikasi dengan pasangan. Selang dua tahun, Amalia melangsungkan pernikahan kedua dan dianugerahi dua orang putra, Aqil dan Satria. Ujian hadir saat dia harus menghadapi kecaman dari berbagai pihak di kantor untuk segera turun dari jabatan, karir yang dibangunnya runtuh seketika. Lalu, menyusul pernikahan kedua pun berujung pada perceraian karena suaminya mengajak berpindah keyakinan.
“Tak apa, aku masih memiliki Aqil dan Satria, apalagi rasa nikmat yang masih bisa kusyukuri selain ini?” (h.61)
Hidup selalu diiringi dengan ujian. Aqil, putra pertamanya mengalami keterlambatan bicara dibandingkan anak seusianya. Awalnya, Amalia menganggapnya hal biasa tapi ternyata Aqil tetap tidak memperlihatkan perkembangan yang wajar dalam belajar. Amalia semakin mempertanyakan dirinya, ‘di mana kesalahanku sebagai orangtua?” Secara psikologis, Amalia mulai membanding-bandingkan dengan dirinya yang ‘sempurna’ sejak kecil. Harga dirinya sebagai seorang yang dihormati di dunia komunikasi harus menghadapi kenyataan memiliki anak yang kesulitan membaca dan berhitung!
“Dalam keadaan seperti ini, seringkali anak berkebutuhan khusus yang disalahkan, dan menjadi fokus terapi. Padahal yang perlu disembuhkan pertama kali justru orangtuanya, lingkungannya.” (h. 77)
Proses pemeriksaan dan tes menyatakan Aqil divonis mengidap suspek disleksia, kondisi yang menyebabkannya mengalami gangguan yang signifikan dalam membaca, menulis, dan berhitung. Perjuangan kembali dilakoni Amalia, emosi naik-turun kerap mewarnai keseharian mereka. Pertengkaran antara dirinya dan Aqil sering muncul karena minimnya kesepahaman. Tapi, Amalia terus belajar dan memohon diberikan kekuatan untuk menerima kondisi putranya.
“Aku kini lebih banyak mendengar. Aku belajar untuk duduk, diam, mendengarkan, dan mencerna.” (h.130)
Dari proses yang panjang dan alot, Amalia dan Aqil menemukan sesuatu yang indah, kebersamaan dan bakat yang tidak disangka-sangka. Meski sebagian besar memoar Amalia menyoroti kehidupannya dengan Aqil, si sulung, kehadiran Satria, putra keduanya tak terlupakan dan memperlihatkan problem tersendiri. Dengan layout yang sarat dengan ilustrasi dan pilihan huruf layaknya tulisan tangan membuat isi buku cukup mencerahkan mata.
“Anak-anak membutuhkan keberanian kita untuk menemani mereka bertualang di lautan kehidupan versi mereka. Berpetualang masuk ke dalam imajinasi mereka, merasakan imajinasi mereka. Berdialog dengan bahasa imajinasi mereka. Mereka adalah pribadi-pribadi unik yang memiliki spectrum yang maha luas.” (h. 154)
Dengan menggunakan sudut pandang dari Amalia Prabowo, sudah pasti isi buku lebih banyak berkisah tentang perjuangan dari orangtua untuk merawat anaknya. Ingin rasanya membaca sebuah memoar dari seorang Disleksia, bagaimana dia bertahan hidup dan menghadapi segala perlakuan dari lingkungan yang bisa jadi tidak bersahabat dengan ‘ketidaknormalan’nya.
Readmore → Wonderful Life

Wednesday, December 7, 2016

Perjalanan Ajaib Edward Tulane

Judul: Perjalanan Ajaib Edward Tulane | Judul Asli: The Miraculous Journey of Edward Tulane | Penulis: Kate DiCamillo | Penerjemah: Dini Pandia | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Terbit: Kedua, April 2014 | Tebal: 208 hlm | Harga: Rp. 50.000 | Bintang: 4/5

“Edward sama sekali tidak suka disebut boneka. Ia menganggap kata itu amat sangat menghina.” (h.20)
Mungkin karena melihat penampilannya yang menawan dan eksklusif, Edward memandang dirinya terlalu tinggi. Edward tidak memiliki perasaan apapun, hanya terselip rasa tidak suka setiap kali diperlakukan seenaknya, selebihnya hanya menganggap manusia adalah makhluk yang membosankan. Bahkan, kepada Abilene, gadis cilik pemiliknya, Edward tidak terlalu peduli, sedangkan Abilene sangat menyayangi Edward. Ketidakpedulian Edward mengecewakan  Pellegrina, nenek Abilene yang memesan Edward pada seorang ahli boneka di Perancis, untuk hadiah ulang tahun ke-7 Abilene.

Kehidupan Edward mulai berubah saat dirinya terlempar dari kapal laut dan tenggelam ke dasar lautan. Dimulailah petualangan yang menghadirkan perasaan-perasaan dalam benak Edward  yang mulai dia kenali satu per satu. “… akhirnya, di dasar laut tertelungkup. Di sana, dengan kepala terbenam dalam lumpur, ia merasakan emosi tulus dan murni pertamanya. Edward takut.” (h.48)

Berbulan-bulan Edward terbenam dalam lautan hingga badai menyelamatkannya dengan terjaring oleh Nelayan Tua Lawrence. Seperti mendapatkan anugerah, Edward, sangat disayangi oleh pasangan tua Lawrence dan Nellie. Hadir lagi perasaan baru dalam diri Edward melalui kebersamaannya dengan Lawrence saat berkeliling kota atau saat menemani Nellie memasak di dapur.
“Sebelum ini, kalau Abilene bicara padanya, semua terasa begitu membosankan. Tapi sekarang, kisah-kisah yang diceritakan Nellie bagai sesuatu yang paling penting di dunia dan ia mendengarkan seolah hidupnya tergantung pada apa yang dikatakan wanita tua itu. Ia jadi bertanya-tanya apakah kepala poselennya kemasukan lumpur laut sehingga jadi rusak.” (h. 67)
Rupanya petualangan Edward masih panjang. Tempat pembuangan sampah menjadi persinggahan selanjutnya selama berbulan-bulan hadir perasaan baru dalam benaknya, “Ia (Edward) sangat merindukan mereka. Ia ingin bersama kedua orangtua tersebut. Si Kelinci bertanya-tanya apakah itu namanya sayang.” (h.79)

Keterpurukannya di TPA berakhir, saat seekor anjing membawa Edward kabur dan menyerahkan pada majikannya, Bull. Pengembaraan semakin luas dan membuka hatinya karena Bull adalah seorang gelandangan yang suka bepergian dan bertemu banyak orang. “Edward tahu bagaimana rasanya berulang kali mengucapkan nama orang-orang yang kautinggalkan. Ia tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang. Jadi ia mendengarkan. Dan ketika ia mendengarkan, hatinya terbuka lebar dan terus melebar.” (h.97)

Petualangan Edward merasakan kasih sayang yang semakin dalam saat kembali ‘berpindah’ ke pelukan Sarah Ruth, gadis cilik yang mengidap penyakit parah. Kakaknya, Bryce menemukan Edward dan menjadikan Edward mainan kesayangan untuk adiknya. Sayangnya, nasib tidak berpihak pada mereka berdua, dan mengantarkan Bryce dan Edward mengembara ke kota, mengais rezeki dengan menjadikan Edward boneka tali.
“Kau mengecewakan aku. Kata-katanya membuat Edward memikirkan Pellegrina: ia teringat babi hutan dan putri raja, pada soal mendengarkan dan kasih sayang, pada mantra dan kutukan. Bagaimana kalau memang ada yang menunggu untuk menyayanginya? Bagaimana kalau ada yang akan disayanginya lagi? Mungkinkan itu? (h.177)
Novel Kate DiCamillo selalu menyimpan sesuatu dengan analogi binatang/benda di sekitar manusia. Seperti halnya saat membaca The Tiger Rising dan The Magician’s Elephant, saya mendapatkan pesan indah dalam kisahnya. Dan, dari ketiga buku DiCamillo, Petualangan Ajaib Edward Tulane adalah yang terindah dan meninggalkan kesan mendalam. Proses melunakkan hati tak  bisa dilakukan dalam hitungan hari, butuh waktu lama dan perjalanan kebersamaan yang panjang, serta terbukanya pikiran untuk merenungi pengalaman yang telah dijalani. Proses yang juga harus diiringi hati yang senantiasa bersedia menerima cinta.
Readmore → Perjalanan Ajaib Edward Tulane

Monday, November 28, 2016

Orang Jujur Tidak Sekolah

Penyunting: Pratiwi Utami
Penerbit: Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-062-6
Cetak: Kedua, Maret 2015
Tebal: xii + 264 hlm
Bintang:  4/5
Harga: Rp. 49.000 (Diskon 20% di Toko Buku Online)
 

Berawal dari ketidakjujuran UAS yang dilaluinya, Rizki memutuskan untuk mencari dan meraih pendidikannya sendiri. Melihat bocoran jawaban UAS yang beredar pada teman-temannya, membuat idealismenya memberontak. Dia gerah bersekolah, tapi pendidikan masih menjadi bekal penting dalam pemikiran dan hidupnya. Pendidikan tetap harus diraihnya, meski tanpa hadir di sekolah. Pilihan yang berujung pada keputusan keluar dari SMA dan mendapatkan pendidikan yang lebih ‘membebaskan’.

Sekolah terkadang terasa mengekang dalam metode belajar yang sebatas kelas, padahal belajar bisa didapat dari mana saja. Rizki merasa lebih suka menggali ilmu pengetahuan dengan caranya sendiri. Berdiskusi atau bertanya langsung kepada guru yang bersangkutan menjadi pilihannya saat duduk di bangku SMP karena dengan cara ini membuatnya mudah untuk memahami materi. Meski terkadang caranya yang anti-mainstream mengundang kejengkelan dari guru karena ketidakpuasan Rizki dalam bertanya.
“Aku sering membolos karena tak punya ongkos membayar angkot. Lalu, apa aku tak berhak mengenyam pendidikan yang layak? … Apakah otomatis hal itu membuatku tidak bisa berkompetisi denga mereka? Bagiku, belajar adalah fitrah manusia. Kita terlahir dengan insting untuk belajar dalam diri kita. … Belajar dalam kamusku berada dalam konteks yang sangat luas.”

Masa kecilnya yang tidak terlalu menyenangkan bisa jadi membentuk karakternya yang ‘keras’ dan setiap ada kemauan akan diusahakan sekeras mungkin. Selain itu, kondisi ekonomi yang tidak menentu dan utang yang terus ‘gali lubang tutup lubang’ membuat pilihannya terlihat lebih realitis. Untungnya, Andri termasuk anak yang berani bertanggungjawab dengan pilihannya. “Aku makhluk yang benar-benar lepas dan keluar dari sistem yang ada. Aku hanya berpegang pada kemampuan berpikir dan naluri diri sendiri untuk menjalani kegiatan pendidikan yang saat itu kujalani.”

Meski terlihat tangguh, ada kalanya Andri kelelahan dengan sistem yang dipilihnya. “Saking stresnya, aku telentang di jalan perumahan saat hujan deras sedang turun. Aku tak kuat … Aku tidak bisa menampik itu. Setinggi apapun idealism yang kupegang, nyatanya tak semulus yang telah kurencanakan sebelumnya. Tangis, tawa, stress, tertekan sampai depresi, semua rasa itu telah kualami sewaktu belajar secara autodidak.”

Sekolah Menengah Atas (SMA) dilaluinya hanya dalam waktu setahun, dan berhasil masuk ke perguruan tinggi, Universitas Indonesia, Jurusan Hukum, yang juga dilalui dalam waktu singkat, tiga tahun. Pengalamannya dalam meraih pendidikan yang tidak mulus, membangkitkan misi dalam hidupnya untuk menyampaikan pendidikan tanpa harus ke sekolah dan ketergantungan pada dana.

Setelah lulus, Andri mendirikan Masjidschooling, semua prasarana dipenuhi dengan swadaya mandiri, hanya berbekal papan tulis, pena, dan tutor untuk memulai pendidikan. Meski peserta hanya satu orang, kelas harus tetap dibuka. Jika tidak ada peserta Andri dkk akan bergerak untuk menjaring peserta langsung dari pintu ke pintu. Modal nekat, tekad kuat, seperti menjadi slogan Rizki melaksanakan apa yang diinginkannya, ditambah dengan ‘yang penting niatnya baik’.
“Masjidschooling dan YPAB (Yayasan Pendiri Anak Bangsa) bukanlah pabrik ijazah. Tujuan kami adalah menciptakan ‘transfer of knowledge’ yang riil dari pendidik dan peserta didik. … Harus kuakui, mengubah mindset mendapatkan ijazah dengan ‘instan’ tersebut tidak mudah. Belum banyak yang menyadari manfaat pendidikan.”

Pastinya hambatan selalu hadir, tapi salah satu alasan Andri mampu melalui semuanya adalah kestabilan emosi yang dimilikinya. Banyak orang pintar di negeri ini, tapi Andri ‘cukup’ pintar dalam membesarkan hatinya setiap kali mengalami kegagalan. Kemampuan inilah yang membuatnya mampu bertahan menghadapi cercaan semasa dia mencari pendidikan, bahkan saat dia bergerak dalam Masjidschooling dan YPAB.

Meski jenis buku ini masuk ke biografi, tapi isinya banyak mengkritik pendidikan di Indonesia. Sudah pasti sudut pandangnya tergolong subyektif karena didasari pengalaman pribadi tanpa adanya pencarian data terkait pelaksanaan pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Tapi, tujuan buku ini sebenarnya untuk menyebarkan ide yang dimiliki Rizki dan memberikan sebuah pandangan baru tentang media pendidikan yang tidak melulu harus di sekolah formal.
“Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Kadang kita kehilangan karakter diri, integritas, dan kejujuran hanya karena mengikuti tren yang berlaku di masyarakat. Bagaimanapun hasil akhirnya, setidaknya hiduplah sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini.” (h.46)

Readmore → Orang Jujur Tidak Sekolah

Friday, November 18, 2016

Sherlock, Lupin dan Aku; Kawanan si Nyonya Hitam

Judul: Sherlock, Lupin dan Aku; Kawanan si Nyonya Hitam
Judul Asli: Sherlock, Lupin & Io: Il Trio Della Dama Nera
Penulis: Irene Adler
 Penerjemah: Tanti Susilawati
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
ISBN 10: 602-249-322-6
Cetak: Ketiga, Juli 2016
Tebal: 263 hlm
Bintang: 3/5
Harga:  Rp. 45.000 (Diskon di Toko Buku Online)


“Siapa bisa membayangkan kisah yang lebih menakjubkan daripada kisah itu? Seorang korban ditemukan tewas di pantai, yang semasa hidupnya memiliki dua nama dan dua kamar di hotel berbeda, di kota yang sama! Kemudian, seorang lelaki lain, yang tak kalah misteriusnya, terlihat olehku saja, tapi aku yakin dia sudah melihat kami semua.” (Irene – h.98)
Sherlock Holmes dan Arsene Lupin, nama yang pasti familiar bagi penggila buku misteri, yang satu detektif, satu lagi, pencuri dan keduanya termasuk karakter tokoh fenomenal. Tapi, itu berlaku saat mereka telah menjadi dewasa. Nah, buku ini menyuguhkan mereka dalam bentuk anak-anak, masih jauh sebelum nama mereka menjadi terkenal. Kisahnya sendiri, diceritakan dari sudut pandang Irene Adler, seorang yang kelak akan menjadi wanita yang dicintai Sherlock Holmes.
 
Kasus pertama mereka adalah kejutan berupa penemuan mayat terdampar di pantai. Dalam kantong si mayat, mereka menemukan batu-batuan yang digunakan untuk menenggelamkan mayat dan sepucuk surat berisi, “Laut akan menghapus kesalahanku.” Semakin mengejutkan saat Irene ketakutan melihat sesosok berjubah yang mengawasi mereka dari hutan. Lain halnya dengan Sherlock dan Lupin yang lebih menampakan rasa penasaran dengan si mayat.
“Aku tak paham bagaimana mungkin mereka bisa begitu tenangnya. Jantungku sendiri berdetak bertalu-talu, dan tangan serta kakiku terasa beku. Tetapi dua bocah ini malah tampak seperti … dokter di ruang operasi.” (Irene – h.66)
Sherlock dan Lupin merasa tertantang untuk menyelidiki kematian si mayat. Di sela-sela kehebohan desa dengan penemuan mayat, ketiga bocah ini pun beraksi dengan tenang supaya tidak memancing kecurigaan. Penemuan dua identitas, ditambah kegemparan akibat hilangnya kalung berlian milik Nyonya Martigny, menjadikan kasus semakin membingungkan. Sangkaan adanya keterkaitan antara dua peristiwa, yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan, ini pun muncul.
 
Sampai suatu ketika, aktivitas penyelidikan Sherlock, Lupin dan Irene mengganggu sebuah kelompok rahasia. Penyerangan pun terjadi dan menyebabkan Sherlock dan Lupin harus mengalami luka-luka lebam, untunglah mereka memiliki keahlian berkelahi. Berkat kejadian itu, akhirnya celah terbuka, melalui salah satu pelaku pemukulan di jalanan yang dikenal Lupin. “Aku tidak tahu seberapa jauh keterlibatan Spirou dan kawanannya itu dalam kasus ini, tapi sepertinya mereka tahu lebih banyak dari kita.” (h.170) Mereka pun mulai membuntuti Spirou hingga ke sebuah gedung tua dimana sebuah kelompok rahasia mengadakan pertemuan.
 
Penyelidikan mereka mulai menemukan titik terang dan menjadi lebih mendebarkan karena adanya aksi kejar-mengejar di atap rumah. Bahkan berlanjut dengan mulai terungkapnya misteri di balik identitas si mayat. Alur penyelidikan berjalan lambat karena seringnya adanya selingan tentang keadaan keluarga masing-masing tokoh, Sherlock, Lupin dan Irene. Namun, jalan-jalan mereka di pantai, mendayung di lautan sampai ke Rumah Ashcroft tetap mengasyikkan. Tak ketinggalan, kejutan tetap hadir sampai lembaran terakhir buku.
“Kasus-kasus dipecahkan melalui banyak detail, dan detail-detail itu sebenarnya sederhana saja: hasil-hasil sepele dari penyelidikan salam sebuah perkara.” (h. 77)

Readmore → Sherlock, Lupin dan Aku; Kawanan si Nyonya Hitam

Saturday, November 12, 2016

Brooke Shields

Judul: Kisah Nyata sang Bintang Melawan Depresi Pasca-Melahirkan
Judul Asli: Down Came the Rain
Penulis: Brooke Shields
 Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penerbit: Qanita
ISBN: 979-3269-59-6
Cetak: Pertama, Februari 2007
Tebal: xvi + 296 hlm
Bintang: 4/5




Memiliki anak pasti menjadi dambaan sebagian besar pasangan, seperti itu juga yang dirasakan Brookie dan Chris. Namun, perjalanan mereka mendapatkan anak tidak mudah. Perjuangan Brookie dan Chris dipaparkan pada awal memoir Brooke Shields, seorang aktris papan atas Hollywood. Leher rahim Brookie yang mengalami penyempitan membuatnya sulit untuk dibuahi. Beragam metode dan pengobatan dilakukannya, dengan kestresan yang sering membarengi prosesnya.

“Aku adalah seorang perfeksionis dan selalu menunjukkan prestasi luar biasa sehingga aku kesulitan bertoleransi pada kegagalan.” (h. 68)
IVF (In Vitro Fertilization)/ Prosedur Bayi Tabung dilakoni Brookie dengan proses yang panjang dan melelahkan, yang mencakup obat-obatan, suntikan dan pembedahan. Proses yang menjengkelkan tapi harus dijalani karena tidak adanya pilihan. Pada bagian ini, rasanya saya ikut miris membaca bagaimana ‘sengsara’ proses yang harus dijalani Brookie, apalagi ketika perjuangannya ternyata berujung pada pengguguran.

“Aku sedang berada di tengah proses kehilangan anakku, dan yang bisa kulakukan hanyalah menunggu. Betapa mengenaskan rasanya, melahirkan tanpa bisa mengharapkan hasil yang positif. Tentunya akan lebih mudah menahan rasa sakit ini saat seorang bayi menanti sebagai imbalan.” (h. 29)
Meski mengalami kegagalan dan membutuhkan pemulihan tubuh yang tidak sebentar, Brookie dan Chris kembali mencoba sekali lagi tanpa berharap besar. Namun, kepasrahan ini malah berbuah manis dengan pernyataan dokter, “Well, hasil tes ternyata positif. Anda hamil!” Suka cita memenuhi hati pikiran Brookie dan Chris, meski masih ada ketakutan akan mengalami kegagalan kembali. Rentetan kejadian dari upaya hamil sampai melahirkan menciptakan rasa sedih, haru, tapi juga kocak karena gaya bertutur Brookie yang asal ceplos, belum lagi sang suami, Chris penulis skenario komedi, yang memang sudah lucu. Kisah yang seharusnya mengharu-biru, malah bisa membuat pembaca senyum simpul atau tertawa.

“Mengapa aku lebih sering menangis daripada bayiku? Lihatlah aku, akhirnya menjadi seorang ibu dari bayi perempuan cantik yang kudapatkan dengan susah payah, dan aku justru merasa kehidupanku telah berakhir.” (h. 91)
“Aku selalu menyangka bahwa saat seorang bayi memasuki kehidupanku, semuanya akan berada di tempat yang tepat, dan aku akan dengan mudah mengikuti kehidupanku yang baru.” (h. 124)
Kebahagiaan yang seharusnya hadir bersamaan dengan kelahiran bayi mungilnya, Rowan, ternyata tak kunjung muncul. Ketakutan dan kegelisahan malah membengkak dalam benak Brookie. Setelah melewati sembilan bulan dengan penuh gairah dan anugerah, tiba-tiba impiannya menjadi berantakan. Keterikatan dengan sang bayi, yang dipikirnya akan terjadi secara alamiah, ternyata tidak menjadi kenyataan, bahkan dia merasa tidak tahan berdekatan dengan Rowan. Kondisi drop ini tidak hanya berpengaruh pada hubungan ibu-anak, tapi juga pernikahannya dengan Chris. Chris khawatir melihat kondisi emosi istrinya, bahkan ada rasa takut jika sewaktu-waktu Brookie melakukan tindakan ekstrem. Peran Chris, sebagai suami juga sangat besar, bahkan titik balik perubahan Brookie bisa dibilang saat suaminya menangis melihat kondisinya.

“Bagi seorang aktris, hal ini bisa cukup menakutkan. … Setelah menghabiskan sepanjang hidupku dengan  bekerja, di sinilah aku sekarang menjadi pengangguran. Aku tidak punya penghasilan sendiri dan tidak sedang melakukan apapun yang kuanggap pekerjaan.
Meski berisikan keluhan Brookie, buku ini juga memuat pendapat para dokter yang sering dikunjungi Brookie. Kondisi masa lalu, kelelahan, proses melahirkan yang meninggalkan trauma, psikologisnya sebagai anak, ketakutan tanpa beralasan, pribadi yang perfeksionis menjadi sebagian penyebab depresi pasca melahirkan yang menimpa diri Brookie. Perubahan yang tidak singkat dan emosi yang naik-turun, mengiringi perjalanan Brookie untuk menemukan ikatan antara dirinya dan Rowan.

“Bagiku, menjadi seorang ibu juga berarti merasakan kebahagiaan yang tak pernah terbayangkan dan kesedihan yang tak pernah terpikirkan. (h. 266)
Readmore → Brooke Shields

Saturday, October 29, 2016

Asyiknya Membantu Bunda

Penulis: Rien Dj dan Deasylawati P
Penyunting: Ayu Wulan
Penerbit: Lintang (Lini Penerbit Indiva)
ISBN: 9786021614877
Cetak: 2016
Tebal: 128 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp. 28.000 (Diskon di Toko Buku Online)


“Wah, Davin baik sekali mau bantu bundanya,” puji Bu Sani saat membeli minyak goreng. Sudah pasti Davin senang dengan pujian, padahal sebelumnya dia merasa bosan dengan liburannya yang hanya tinggal di rumah. Cerpen berjudul Asyiknya Membantu Bunda, menjadi pembuka dari kumpulan cerita yang bertemakan pendidikan akhlak untuk anak.

Asyiknya Membantu Ibu menjadi salah satu cerpen yang mengangkat tema akhlak yang harus ditanamkan pada diri seorang anak. Cerita pendek lainnya yang juga memiliki pesan akhlak, tersirat dalam Bintang untuk Najma; yang bercerita tentang kebingungan Najma menemukan kelebihan dalam dirinya, Sepatu-Sepatu Lola, kisah keteledoran Lola dengan benda miliknya; Asad yang Suka Tersesat; Asal Ambil; yang masing-masing menceritakan pada anak pengetahun tentang keuntungan dan kerugian dari akhlak yang dimiliki para tokohnya.

Bukti Dio, adalah salah satu cerpen favorit saya. Dio yang sering diejek temannya sebagai anak mama, merasa marah dan kesal. Dia memutuskan untuk berbohong pada teman-temannya dengan menciptakan rekayasa foto supaya tidak dikatakan sebagai penakut. Keinginan anak untuk diakui, terutama oleh teman-temannya, tergambar pada cerpen ini. Pesan yang mengajarkan sebuah kondisi yang tidak menyenangkan, tetap harus mereka sikapi dengan positif, tidak asal membuktikan diri, apalagi dengan keburukan, seperti berbohong.

Tak hanya pada diri sendiri, akhlak juga perlu dikaitkan pada masyarakat dan lingkungan. Pemahaman tentang nama yang baik dan buruk ketika hidup dalam masyarakat terkandung dalam Satu Nama yang Terlupa; Harapan Lok Baintan; Sebatang Pohon yang Melintang. Selain itu, kisah berjudul Dari Sebutir Nasi dan Bukan Pekerjaan Sepele adalah cerpen yang menarik. Sesuatu yang sepele seperti sebutir nasi atau menyebarkan informasi ternyata bisa memberikan dampak global. Meski tema terlihat berat, tapi gaya bercerita sederhana sudah pasti dapat dicerna oleh kepala anak-anak.

Dua puluh cerpen yang ditulis oleh Rien Dj dan Deasylawati ini, tidak hanya terbalut pada realitas kehidupan, tapi juga ada beberapa cerpen yang disampaikan dengan gaya fantasi, dongeng dan misteri. Clarita si Penjual Dongeng dan Kisah Boneka Bermata Biru menjadi cerita fantasi yang mengajarkan tentang tolong-menolong. Sedangkan, sisi misteri cukup banyak dimuat seperti pada cerpen Aksi Detektif Fian: Siapa Pencurinya?; Komplotan Jaket Merah; Misteri Lukisan Berdarah; Misteri Rambut Perak; Kutukan Empu Gandring, Pria Misterius dan Ransel Merah; Rumah Nomor Tiga Puluh.

Mengingat pentingnya penanaman akhlak terpuji pada anak sejak dini, menjadikan media cerita sebagai pilihan yang menarik. Cerita atau dongeng dapat dijadikan pengantar materi pemahanan pada anak karena caranya yang terkesan ringan tanpa paksaan.
Readmore → Asyiknya Membantu Bunda

Friday, October 7, 2016

Anakku Bertanya Tentang LGBT

Judul: Anakku Bertanya Tentang LGBT 
Penulis: Sinyo
Penerbit: Quanta
ISBN: 9786020251783
Cetak: Pertama, 2014
Tebal: 174 hlm
Bintang: 4/5
Harga:  38.800


Siapa yang tidak kenal istilah LGBT. Orientasi seksual yang ‘menyimpang’ ini cukup menarik untuk dibahas karena ada kaitan dengan psikologi. Seringkali masyarakat memandang aneh bahkan menyalahkan/mengucilkan para pelaku LGBT dikarenakan ketidaktahuannya. Lewat Anakku Bertanya Tentang LGBT, Sinyo berusaha menyampaikan informasi secara obyektif terkait orientasi seksual non-heteroseksual.

“… di Indonesia sebenarnya cukup banyak orang yang bermasalah dengan dunia LGBT, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian dari mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa dan bagaimana menyikapinya.” (h.17)

Penjabaran dimulai dari pemahaman tentang istilah yang seringkali salah/salah sasaran dalam masyarakat seperti istilah Transeksual, Transgender, Banci atau Waria yang seringkali disamakan, padahal artinya berbeda. Pemahaman arti akan membantu kita untuk lebih berhati-hati dalam memakai istilah-istilah tersebut.

Berlanjut pada sejarah LGBT dari masa praduga dan masa fakta. Berdasarkan masa fakta yang diambil dari penemuan arkeologi dll yang berhubungan dengan seks sesama jenis, LGBT mulai muncul pada abad VII SM, sedangkan berdasarkan pesatnya perkembangan komunitas LGBT, mulai terlihat pada abad XI M. Berdasarkan catatan di Indonesia sendiri komunitas LGBT mulai muncul tahun 1920-1980.

“Perkembangan dunia homoseksual semakin pesat sejak abad XI masehi. Pro dan kontra keberadaan komunitas tersebut bertambah banyak. Penggunaan istilah LGBT mulai tercatat sekitar 1990-an” (h. 46)
“Di Indonesia sendiri sebenarnya terdapat komunitas kecil LGBT walau masih berakar pada kebudayaan. … Salah satu contohnya adalah adanya gemblak di Ponorogo. Geblak adalah laki-laki muda yang dijadikan semacam “istri” oleh para warok di Ponorogo.” (h.54)

Obyektivitas isi buku sangat terasa karena penulis selalu menuturkan LGBT dari sisi pro dan kontra, seperti pandangan masyarakat, lembaga-lembaga pendukung, dan tokoh yang berkecimpung di ranah LGBT. Sebagian besar alasan dari pro LGBT adalah hak asasi manusia (HAM), setiap manusia berhak dihormati dan diapresiasi, termasuk pengidap LGBT agar terbebas dari diskriminasi/tekanan dari pihak manapun.

Ada pro, ada kontra, penjabaran penulis tentang pihak kontra tidak hanya dari sisi agama, tetapi juga ilmu pengetahuan, salah satunya lembaga NARTH, organisasi yang menolak anggapan bahwa orientasi tidak dapat diubah dan sudah menetap, mereka mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan sehingga semua berdasarkan fakta dan penelitian. Mereka pun mengusung visi supaya “menjunjung tinggi hak-hak individu yang memmpunyai ketertarikan homoseksual namun tidak menginginkannya untuk menerima perawatan psikologis.” h.95

Jika merujuk pada judulnya, anggapan awal saya fokus dari pembahasan buku ini adalah pendidikan anak, ternyata penulis lebih banyak mengurai tentang LGBT. Meski begitu, pembahasan dari mulai yang mendasar tentang tema LGBT sangat penting untuk diketahui, termasuk orangtua. Antisipasi kecenderungan seksual dari keluarga dan lingkungan sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Seperti yang diuraikan oleh organisasi NARTH, “Tidak ada yang disebut ‘gay gene’ dan sama sekali tidak ada bukti nyata yang mendukung gagasan bahwa homoseksual hanya dipengaruhi oleh factor biologis.” (h.101)

Pengaruh luar sangat besar untuk membentuk kecenderungan seksual, antaranya, pengaruh budaya, pendidikan/pengasuhan orangtua dan figur orangtua. Selain itu, pengawasan, perhatian, dan pencarian komunitas sehat oleh orangtua dapat mengantisipasi terjadinya pelecehan seksual pada anak. Namun, jika kondisi sudah terlanjur, penulis juga menyampaikan bagaimana tindakan yang perlu diambil ketika menemukan orientasi non-heteroseksual pada anak/saudara terdekat.

“Segala hal yang berkenaan dengan dunia ini datangnya dari Allah Swt, entah itu ditanggapi suka ataupun duka. Orientasi seksual sesame jenis pun diberikan oleh Allah sebagai ujian bagi individu yang memilikinya.” (h.149)
Readmore → Anakku Bertanya Tentang LGBT

Thursday, September 29, 2016

Bintang Keluarga

Judul: Bintang Keluarga
Judul Asli: The Bed and Breakfast Star
Penyunting: Poppy D. Chusfani
ISBN: 9789792247015
Cetak: Juni 2009
Tebal: 216 hlm
Bintang: 4/5
Harga: -


“Aku kembali menjulurkan lidah, karena muak diomeli semua orang sementara aku tidak bersalah.” (Elsa – h.68)

Elsa hidup bersama ibu dan ayah tiri, ditambah dua adik kecil yang sangat disayanginya. Kemarahan secara verbal seringkali datang kepadanya sebagai bentuk pelampiasan stres orang dewasa. Kehidupan Elsa berpindah-pindah, sampai dia menomori dan memberi penilaian tempat tidurnya setiap kali berganti tempat tinggal. Kepindahan untuk kesekiankalinya, mengantarkan Elsa dan keluarga ke Royal Hotel, tempat penampungan keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal, dan inilah tempat tidur ke tujuh Elsa.

“Tempat tidur itu berderak kemudian mengerang. Sama sekali tidak membuatku memantul. Tempat tidur itu hanya bergetar dan berhenti bergerak. Tempat tidur nomor tujuh sangat mengecewakan.” (h.45)

Ibu sangat tidak menyukai Royal Hotel karena kondisinya yang hampir tidak layak huni. “Aku benci melihat Mum sedih dan murung seperti itu. Aku berusaha melucu untuk membuatnya agak ceria” (h.80) Elsa selalu ingin membuat suasana ceria dengan leluconnya, sayangnya orang dewasa malah menganggapnya mengacau. Betapa menjengkelkan orang dewasa, tebak-tebakan Elsa hanya dianggap angin lalu.

“”Apa yang ada di kepalamu, berkeliaran, dan berteriak-teriak begitu?” dia (Mack) berteriak, bergegas melintasi ruangan. Aku bisa merasakan ini bukan saat yang tepat untuk berkata bahwa aku hanya meniru tingkah laku ayah tiriku.” (h. 73)

Mack, Ayah tiri Elsa tidak menyenangkan karena suka sekali mengeplak, tapi Elsa menyayangi kedua adik tirinya, terutama Pippa. “Mack si Keplak. Itu bukan gurauan. Dia memang suka mengeplak. Terutama mengeplakku. Seharusnya orang dilarang mengeplak anak-anak. Di banyak Negara, memukul merupakan perbuatan melanggar hukum dan jika orang memukul anak-anak, ia akan masuk bui. Aku berharap tinggal di salah satu Negara itu.” (h. 13)

Meski kesehariannya tidak menyenangkan bersama Mack, tapi Elsa anak yang enerjik dan riang. Saat kedatangannya di Royal Hotel, Elsa menemukan teman baru, Naomi, gadis yang suka duduk di atas wastafel sambil membaca buku. Selain itu, ada si Tampang-Lucu yang sebelumnya adalah musuh, tapi di kemudian hari menjadi teman karena tebakan dan lelucon Elsa.

“Sekolah itu agak bikin depresi juga. Mereka menyuruhku mengerjakan tes serta segala macam ujian dan aku tidak mampu mengerjakan sebagian besar di antaranya. Mereka menganggapku tolol. Aku menganggap diriku tolol. Aku harus mengikuti beberapa kelas ekstra untuk membantuku belajar baca-tulis dan berhitung. Anak-anak yang lain menertawaiku.” (h.111)

Salah satu yang menyenangkan ketika kepindahannya ke Royal Hotel adalah saking stresnya Mum, dia lupa menyekolahkan Elsa. Namun, suatu hari Elsa harus sekolah, hanya saja pengalaman bersekolah yang tidak menyenangkan membuatnya membolos bahkan pada hari pertama masuk kelas. “Tampang-Lucu dan hampir semua anak cowok membolos setiap hari. Aku memutuskan itulah yang akan kulakukan. Aku mungkin sadar aku cerdas, tapi sekolah ini mungkin bakal memberiku jenis tes yang salah. Aku bisa dengan mudah dikira bodoh lagi.” (h.113)

Elsa memiliki cita-cita menjadi komedian terkenal dan muncul di televisi. Keinginan yang membuatnya senang terus membaca koleksi bukunya yang berisi kumpulan lelucon. Keinginannya yang besar untuk muncul di layar televisi pernah muncul, tapi sayangnya media hanya menginginkan berita lain dan melupakannya yang berusaha mati-matian melontarkan leluconnya. Hingga suatu ketika terjadi kegemparan dan menyebabkan media berbondong-bondong mendatanginya.

Jacqueline Wilson selalu pandai mengolah cerita suram kehidupan anak (broken home, dkk) dengan mengambil sudut pandang anak. Dan itu menjadi semacam gambaran dari “suara” anak-anak tentang kesedihan yang dicerna dengan gaya eksentrik dan polos. Imajinasi juga bermain dalam kisah Elsa, terutama ketika dia mulai mengeluarkan lelucon atau ketika dia bercerita tentang keluarganya kepada teman-teman di sekolahnya untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan.

“Aku tidak panas. Aku merasa cool banget.
Aku tidak murung. Aku gembira gembira gembira.
Aku bukan kelinci. Aku Elsa dan aku mengaum seperti singa.
Hei, apa yang kaudapatkan jika mengawinsilangkan singa dengan burung nuri?
Aku juga tidak tahu, tapi jika dia berkata, “Ayo senyum”. Kau sebaiknya TERSENYUM.”
Readmore → Bintang Keluarga

Saturday, September 17, 2016

Smart Parenting with Love

Judul: Smart Parenting with Love
Penulis: Bunda Arifah
Penyunting: Krisna Somantri
Penerbit: Progressio Publishing (Lini Sygma Publishing)
ISBN: 9786029513691
Cetak: Pertama, Mei 2010
Tebal: xiv + 138 hlm
Bintang: 4/5
   

Pergaulan bebas, narkoba, tontonan tak mendidik, menjadi beberapa bagian dari banyaknya penyebab bejatnya perilaku dari para remaja di era yang katanya modern ini. Lebih menyedihkan lagi ketika media lebih menyukai mempertontonkan tingkah polah negatif remaja yang semakin tidak terkendali, daripada wacana yang memperlihatkan kepositifan demi mendidik/ menginspirasi  konsumen dari media.
 
Sebagai orangtua, terutama ibu, seringkali muncul ketakutan, apakah sudah memberikan pendidikan dan pemahaman yang baik pada anak. Melihat keganasan pergaulan yang semakin merajalela, rasanya ingin sekali 'menyimpan' anak-anak di rumah. Tapi, sedikit mengambil kutipan dari buku Guru Kecilku #2, “Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya.” Mungkin inilah tantangannya memiliki putra/i di zaman sekarang, di mana kecanggihan pun bisa menjadi pendukung orangtua untuk lebih bersemangat mencari ilmu demi membentengi sang anak.
 
"Semua perubahan membutuhkan pembiasaan dan hati yang istiqomah. Karena dalam pelaksanaannya, berubah menjadi lebih baik banyak sekali hambatan dan tantangan." (h.  43)

Pembentukan karakter dan akhlak yang kuat untuk menyiapkan anak menghadapi kehidupan, perlu dilakukan orangtua. Caranya pun tak lagi sama seperti zaman dulu, yang mana tingkat kekritisan anak tidak setinggi dan seberani sekarang. Tidak cukup sekali dua kali untuk membimbing dan menanamkan pengertian kepada anak, butuh pembiasaan, kreativitas, dan kesabaran ektra dari orangtua.
 
Salah satu tips yang diberikan Bunda Arifah dalam buku ini, adalah berikan pemahaman pada anak ketika mereka dalam keadaan aman dan nyaman karena saat itu kondisi kerja otak anak-anak sedang maksimal. Melalui buku Smart Parenting with Love, Bunda Arifah mengajak pembaca untuk menjadi smart parent dengan pembahasan materi yang juga merujuk dari pengalamannya mendidik keempat buah hatinya.
 
Orangtua tak selalu benar karena setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, begitupun dengan penulis yang pernah salah kaprah, tapi keinginan untuk terus memperbarui ilmu, menjadikannya banyak belajar dan memperbaiki diri ketika berhadapan dengan anak. Berdiskusi adalah salah satu cara yang meletakkan orangtua dan anak pada posisi yang sama. Mendengarkan dan memahami pemikiran anak juga menjadi bahan penting dalam pertimbangan orangtua.
 
“Secepatnya mengajari mereka cara berdiskusi, berpikir, memilih, dan mengambil keputusan sendiri, agar mereka segera mengenali hal penting yang diperlukan.” (h. 22)

Cara komunikasi yang sering salah, juga perlu diperbaiki, karena seringkali cara anak berkomunikasi bercermin dari orangtuanya. Contoh dari pengalaman pribadi saya, saat melihat Miza marah, ternyata tak jauh berbeda seperti ketika saya marah. Salah satu penyebabnya karena balita menganggap cara ayah-ibunya-lah yang benar. Selain itu, teknik berbicara pada anak, dengan menurunkan tubuh setinggi anak dan memandang matanya, bisa membuat mereka merasa lebih dihargai dan fokus saat berkomunikasi.
 
“Jangan mematahkan pertanyaan anak ketika kita membacakan cerita, bahkan kita harus menstimulasi anak untuk bertanya. Ini merupakan cara melatih anak berpikir kritis dan analitis.” (h. 27)

Masalah Kemandirian juga dibahas dalam buku ini karena menjadi salah satu karakter yang dibutuhkan untuk bertahan dalam hidup. Termasuk membimbing anak untuk menerima kesedihan atau sesuatu di luar keinginannya. Hal ini dikenal dengan Adversity Quotient (AQ), kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Hanya saja, buku ini membahas bagian permukaannya mengenai hal tersebut dan pembaca perlu memperdalam ilmu melalui referensi buku yang digunakan penulis.
 
“Setiap manusia, tanpa terkecuali perlu merasakan lima hal dari lingkungan sekitarnya untuk dapat merasa aman dan bahagia dalam hidup, yaitu merasa dikenali, didengar, diterima, dimengerti, dan dihargai,” (h. 52) termasuk anak-anak.

Readmore → Smart Parenting with Love

Thursday, May 26, 2016

The Creative Family

Judul: The Creative Family
Penulis: Amanda Blake Soule
Penerjemah: Tutut Lestari
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-574-7
Cetak: Pertama, Mei 2013
Tebal: xxvi + 546 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 39.000 (Diskon di Toko Buku Online)



“Anak harus tahu bahwa ia adalah keajaiban, bahwa sejak awal dunia hingga akhir zaman, tidak ada dan tidak pernah ada anak lain seperti dirinya” – Pablo Casals

Bagaimana mendorong imajinasi dan menumbuhkan ikatan keluarga, adalah tagline yang pas untuk buku ini karena di dalamnya penulis tidak hanya menyodorkan kreativitas keluarga tapi juga menonjolkan efek dari aktivitas bersama tersebut. Menyenangkan membaca buku ini, sampai saya dibuat iri dengan kreativitas si ibu dan anak-anaknya, apalagi gaya tuturnya sangat bersahabat.

Buku terbagi dalam empat bab, masing-masing merangkum cara mencari inspirasi, tips-tips membangkitkan imajinasi dan saran-saran yang perlu dilakukan untuk mendukung kreativitas anak yang suka tiba-tiba bisa muncul, semisal menyediakan bahan-bahan yang sering dijadikan bahan berkreasi dan meletakkan sesuai jangkau anak. Resiko berantakan pasti ada sehingga di beberapa bagian penulis memberikan tips meminimalisirnya.

Meski mungkin tidak semua saran/teknik penulis bisa diikuti, tetap saja banyak hal yang bisa diambil dari membaca The Creative Family ini. Hampir di setiap sub bab, penulis akan memberikan contoh aktivitas yang dilakukannya bersama keluarga, juga terselip panduan membuat prakarya dengan penjelasan yang cukup detail, salah satu prakarya rajut membuat saya ingin kembali belajar merajut.

“Saat kita memberi mereka (anak) ruang dan dorongan untuk mengeksplorasi kreativitas mereka sendiri, mereka bisa menjadi seniman yang paling menginspirasi, ilmuwan yang selalu ingin tahu, dan filsuf yang paling orisinal.” (Prakata)

Pembahasan/selipan yang paling saya suka dalam buku ini adalah momen-momen penghargaan yang diberikan untuk anak mereka. Salah satu kejadian yang berkesan menurut saya dari pengalaman penulis adalah ketika sebuah gambar anaknya dikreasikan menjadi sulaman pada bantal hias keluarga. Saya jadi terbayang ekspresi wajah Miza setiap kali mendapat pujian setelah menggambar/membuat sesuatu atau saat gambarnya ditempel di tembok. Suatu bentuk penghargaan yang akan memompa kepercayaan-dirinya.

Pembahasan juga menyelipkan contoh-contoh permainan, yang tidak hanya memuat sisi kreativitas tapi juga bertujuan menghangatkan hubungan keluarga. Salah satu permainan sederhana yang direkomendasikan penulis untuk ‘mengikat’ keluarga adalah Kisah Tanpa Akhir dan permainan ini berhasil saya lakukan bersama si sulung bahkan membuat dia ketagihan untuk berimajinasi terutama dengan cerita binatang. Beberapa saran yang memungkinan dilakukan sangat ingin saya terapkan di rumah.

“… betapa indahnya jika kita semua bisa meyakini dan menerimanya, karena seni memiliki kekuatan yang luar biasa --- Kekuatan untuk mengekspresikan, kekuatan untuk menyembuhkan, kekuatan untuk berbicara, dan kekuatan untuk menghubungkan orang.” (h.78)
Readmore → The Creative Family

Tuesday, May 3, 2016

Sheila, Kenangan yang Hilang

Judul: Sheila, Kenangan yang Hilang
Penulis: Torey Hayden
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita
ISBN: 979-3269-07-3
Cetak: Ketiga, Desember 2003
Tebal: 528 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. -




“Antara dahulu dan sekarang saya selalu percaya bahwa saya telah menyelamatkannya dari bencana terburuk. Kini, setelah menyadari bahwa bahkan ketika dia masih mengikuti kelas saya dia tetap menderita, saya merasa kesakitan. Kesakitan ini semakin menyiksa sekarang setelah saya tahu bahwa bahkan saya tidak tahu tentang penderitaannya.” (Torey ~ h. 264 hlm)

Saya sama sekali tidak menyangka kelanjutan Sheila akan seperti ini. Bahwa kelas Torey yang saya pikir telah mengubah Sheila, ternyata tidak membawa dampak besar bagi hidupnya. Bahkan, Sheila lupa dengan kelas yang sempat memberikan keceriaan dalam hidupnya. Sheila menganggap Torey telah merusak hidupnya, menjebloskannya ke dunia yang tak dikenal kemudian meninggalkannya sendiri, sama seperti Ibunya.

“Ini sungguh menyakitkan. Pengalaman itu mempunyai arti yang begitu penting bagi saya sehingga saya beranggapan bahwa itu juga sama pentingnya bagi dia. … Tanpa saya, tanpa lima bulan yang kami alami bersama, kemungkinan besar Sheila akan berada dalam sel di sebuah rumah sakit Negara. … Saat saya menyadari kepongahan dari asumsi saya. Selanjutnya, saya berusaha mengingatkan diri sendiri bahwa masa lima bulan itu mungkin memberi lebih banyak arti bagi saya daripada bagi Sheila.” (Torey ~ h. 128)

Buku ini masih berkutat dengan pendidikan anak dengan keterbelakangan mental. Kali ini, Torey membuka kelas bersama Jeff, dan melibatkan Sheila di dalamnya, dengan harapan dia bisa mengingat kenangan di kelas Torey dahulu. Saya jauh … jauh lebih suka kisah Sheila, Kenangan yang Hilang daripada yang sebelumnya. Seri ini lebih kompleks. Pertemuan Torey dengan Sheila ternyata menguak banyak sekali ganjalan dalam diri masing-masing.

Torey sekarang berhadapan dengan remaja, yang tak bisa dikendalikan seperti saat Sheila kecil. Naik turunnya emosi remaja tergambar dengan gamblang pada buku ini. Terkadang saya sendiri salut dengan kesabaran Torey yang masih bersedia menerima kembali Sheila dengan tingkahnya yang begitu menjengkelkan dan sangat labil.

“Kamu dan Sheila sama-sama mengidap penyakit yang sama. Yang tersimpan dalam ingatan Sheila hanyalah guru yang hebat yang tidak pernah marah padanya dan kini dia jengkel saat menemukan betapa biasa dan manusiawinya kamu; tapi kamu tahu, Hayden, kamu pun melakukan hal yang sama. Yang mewarnai perilakumu terhadapnya sekarang adalah fakta bahwa yang kamu ingat pun bukan Sheila sebagai anak yang sebenarnya, melainkan si tokoh berusia enam tahun dalam bukumu.” (Jeff ~ h. 183)

Sekali lagi, kisah hidup Sheila memberikan banyak makna/pelajaran bagi saya. Selain itu, kisah ini memberikan gambaran bagaimana manusia tak selamanya tahu apa yang terbaik untuk dirinya/orang lain, tapi melakukan/memberikan yang terbaik adalah pilihan yang berharga.
Readmore → Sheila, Kenangan yang Hilang

Saturday, April 23, 2016

Catatan Hati Ibunda


Judul: Catatan Hati Ibunda
Penulis: Asma Nadia, dkk
Editor: Diyan Sudihardjo, Hilda Emil
Penerbit: Asma Nadia Pusblishing
ISBN: 978-602-9055-19-1
Cetak:Pertama, September 2013
Tebal: viii + 304 hlm
Bintang: 4/5
Harga: Rp. 56.000


Dan begitu gemasnya aku, ketika mendengar alasan utama yang dipaparkan sekolah ketika meminta anakku mengundurkan diri adalah karena ia tidak normal. (Aku Percaya Padamu, Malaikat Kecilku ~ h. 98)


Kutipan di atas diambil dari ujian seorang Ibu yang diamanahi putri hiperaktif nan cerdas tapi kesulitan untuk merangkai kalimat dalam kesehariannya. Kesulitan semakin rumit ketika si kecil tidak bersedia mengikuti gurunya karena diperlukan teknik khusus 'merayunya'. Sayangnya, pihak sekolah sepertinya 'tidak ingin' dipelajari teknik baru di luar standar mereka. Mungkin istilah pasnya, gak mau ribet.


Saya jadi teringat dengan kalimat dari buku Pak Munif Chatib, "Anak kita harus memiliki dua kaki yang kuat untuk mendaki. Ketika orangtua dan guru menjadi sahabat sejati, maka mereka berdua akan menjadi kaki yang kuat untuk anaknya mendaki." Jika sekolah hanya menerapkan pembelajaran dengan standar 'anak normal', pendidikan tidak ada berkembang dan bersifat otoriter. Bersyukur akhirnya, sang Ibu tetap berjuang dan menemukan sekolah yang tetap peduli dalam mendidik anak-anak dengan keistimewaan lebih.


Aku bukan siapa-siapa, tapi aku ibu anakku. Dan aku yakin Allah menganugerahkan seorang anak istimewa karena Ia tahu aku akan berjuang.” (Aku Percaya Padamu, Malaikat Kecilku ~ h.100)


Belajar menjadi orangtua adalah pengalaman yang luar biasa. Ada rasa bahagia, antusias, takut, cemas, bahkan bingung. Ya, Bingung, seperti dalam judul Sekolah menjadi Ibu, salah satu kisah yang membuat kepala saya mengangguk-angguk. Sebenarnya, kisah ini hanya berisikan kegelisahan penulis. Sejak hamil penulis ketiban banyak saran, dari orangtua, dari teman, dari dokter, dan pusingnya, dia tidak tahu harus mengikuti yang mana.


“.... Kemudian datanglah bulan terakhir kehamilan.

Kata Mertua, aku harus minum rendaman air rumput fatimah

Kata teman, aku harus banyak minum madu supaya jalan lahirnya lancar

Kata saudara, madunya harus dicampur telur ayam kampung mentah

Kata Papa, aku harus banyak jalan spaya bayinya bisa turun ke jalan lahir

Kata Mama, lebih baik latihan mengepel di rumah

Kata dokter, aku harus banyak istirahat karena tensi yang terlalu rendah

Suami tidak berkata apa-apa. Dia sendiri pusing dengan begitu banyaknya saran (Sekolah Menjadi Ibu ~ h.64)


Situasi yang masih berlanjut setelah kelahiran, bahkan bisa jadi setelah anak tumbuh dan dewasa. Merasakan hal yang sama, bukan? Tapi kegelisahan seorang Ibu tak hanya karena faktor luar, tapi juga faktor dalam diri. Pertanyaan tentang apakah sudah benar dalam mendidik anak, dimana letak kesalahan, kenapa anak tidak bisa menurut, bermunculan di kepala. Menyusutnya rasa percaya diri dan ada ketakutan karena sudah atau mungkin akan melakukan kesalahan, sering ‘menyerang’ para Ibu. Saat kesabaran menghadapi polah anak mulai tergerus kelelahan, teriakan atau pemukulan dianggap sebagai penuntas masalah.


Tak jarang mata saya langsung memanas, ingin menangis. Selain karena emosi yang tak terlampiaskan, berbagai perasaan berkecambuk. Saya mendadak merasa seperti ibu yang tidak sabaran, ibu yang bodoh, tidak amanah terhadap titipan Allah, dan berbagai tudingan buruk lainnya. Bagaimana tidak, harusnya saya sadar bahwa Dinda masih terlalu kecil untuk mengerti bahwa ia telah melakukan kesalahan. (Sesaat, Sebelum Emosi Meledak ~ h.142)


Salah satu konflik yang sering terjadi antara orangtua dan anak adalah komunikasi. Perbedaan pendapat antara orangtua dan anak sudah menjadi hal lumrah. Bahkan, ketika memiliki anak, bisa jadi mengalami perbedaan pendapat dengan ibu kita dalam mengasuh/menangani anak. Kita yang mempelajari pola asuh melalui buku/internet, seringkali bertentangan dengan ibu yang masih menerapkan pendidikan zaman dulu. Tak dipungkiri, peran teknologi menjadikan anak lebih kritis dalam menanggapi situasi. Orangtua dan sekolah bukan lagi sumber pengetahuan satu-satunya bagi anak. Maka, tidak perlu kaget, ketika suatu saat anak juga akan berbeda pendapat dengan orangtua.


Kadang berpikir, apakah aku sekadar mencari-cari alasan ketika tengah berargumen dengan anakku? Apakah sebetulnya kami sebagai orangtua, tengah melindungi kepentingan diri sendiri ketika memaksakan satu kehendak kepada anak-anak? (Demonstran! ~ h.179)


Kisah-kisah dalam buku Catatan Hati Ibunda, memperlihatkan sebagian ragam konflik batin atau lahir yang melanda keluarga. Tak hanya bercerita tentang pengalaman ibu beranak bayi/balita, tetapi juga remaja dan dewasa. Pembaca tidak akan disuguhi solusi gamblang di dalamnya, tapi pengalaman selalu menjadi pelajaran berharga, meski pengalaman tersebut datangnya dari orang lain.


Jangan berpikir bahwa ketika anak sudah tumbuh remaja/dewasa, orangtua tak perlu memusingkan perkembangannya, karena permasalahan pada setiap usia anak memiliki tingkatannya. Jadi, tidak ada yang kata berhenti belajar terutama bagi orangtua karena karakter utama dari seorang anak terbentuk dari dalam rumah (keluarga).


"Janganlah engkau berpikir tentang hasil akhir dari usahamu mendidik, tetapi bersungguh-sungguhlah dalam mendidik." (Prinsip-Prinsip Dasar Parenting, Ust. Rahmat Abdullah)
Readmore → Catatan Hati Ibunda

Friday, April 8, 2016

Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Judul: Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku 
Penulis: Saniyasnain Khan
Penerjemah: Shinta Anita
Penerbit: Muara (Imprint KPG)
ISBN: 9011206050
Cetak: Pertama, November 2012
Tebal: 319 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp. -


Memperkenalkan Al-Qur'an sejak dini, seharusnya sudah menjadi barang wajib bagi muslim/ah, terutama yang telah diamanahi anak. Mulai dari membiasakan telinga anak dengan bacaan-bacaan Al-Qur'an sampai membacakan isi yang terkandung di dalamnya. Salah satu cara menyampaikan sesuatu yang disukai anak adalah bercerita, dan media yang cocok adalah buku dengan ilustrasi/gambar yang mendukung cerita. 

Salah satu cerita dan ilustrasi yang menggambarkan keMahaBesaran Allah SWT.

Sebagian besar kisah yang dituturkan dalam buku ini adalah kisah Nabi yang terkandung dalam Al Qur'an. Dari kisah Nabi Adam as, sampai kisah bapak pada Nabi yang banyak disampaikan dalam buku ini, yaitu Nabi Ibrahim as. Selain berkisah tentang nabi, ada kisah tentang Fir'aun dan Qarun yang menjadi sisi peringatan bagi orang-orang yang kerap menyombongkan diri.

Salah satu kisah tentang Nabi Ibrahim as.
Azab Qarun, tokoh yang memiliki kekayaan berlimpah tetapi sombong
Sudah pasti yang menyenangkan dari buku ini adalah ilustrasi warna-warninya yang membuat anak betah untuk berlama-lama melihat, terutama bagian yang memperlihatkan binatang. Bagian yang paling mengena untuk saya pribadi adalah bab 25 Nasihat Luqman, yang memang berisikan nasihat Luqman untuk putranya yang tercantum pada Surat al-Luqman.

Sebagian daftar isi dari buku Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Readmore → Kisah-kisah Al-Quran Pertamaku

Thursday, March 31, 2016

5 Guru Kecilku #2

Judul: 5 Guru Kecilku #2
Penulis: Kiki Barkiah
Editor: Aditya Irawan
Penerbit: Mastakka Publishing
ISBN: 9786027327412
Cetak: Desember 2015
Tebal: xxvi + 237 hlm
Bintang: 5/5
Harga: Rp. 80.000


"Kiki... Sesungguhnya Allah tidak meminta kamu untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Allah hanya meminta kamu taat! Sehingga Allah sendiri yang akan menyelesaikan persoalan kamu." (h. 28)

Masih sama seperti 5 Guru Kecilku bagian pertama, seri terbaru ini juga sangat menginspirasi, minim teori tapi padat dengan realitas. Pada buku ini saya menemukan Ali sudah memasuki masa remaja, di mana kemandirian dalam belajar terbaca luar biasa. Momen Ali yang paling mengena dalam buku ini adalah saat kerinduan Ali dengan sosok Ayah yang tak lagi bisa memberikan perhatian penuh kepadanya, karena banyaknya adik yang juga membutuhkan perhatian. Momen yang mungkin juga akan dilalui Sulung saya.

Syafiyah agak jarang dikulik dalam buku ini, seingat saya hanya sekilas-sekilas, dan sekalinya muncul ketika Teh Kiki mencurahkan cita-citanya terkait Syafiyah kelak --- tapi tetap bisa dijadikan referensi mendidik putri. Pada bagian kedua ini Teh Kiki masih 'bergulat' dengan emosi Shiddiq, sedangkan Rafiq juga mulai menunjukkan aksinya, perebutan perhatian orangtua kerap menjadi alasan 'pertempuran' mereka.

Mendengarlah... Diammu sejenak untuk duduk bersama dan mendengar perasaan mereka, mungkin kelak turut dapat menyelamatkan masa depan mereka (h.22)

Cerita paling menyentuh bagi saya adalah Andai Saja Aku Mau Mendengar Satu Kalimat Lagi, kisah yang menohok apalagi mengingat kesabaran saya yang sering pupus ketika berhadapan dengan Si Sulung, Miza. Niat baik anak terkadang disalahpahami orangtua ketika mereka melakukannya dengan tindakan dan komunikasi yang tidak tepat. Padahal, di usianya yang masih kecil, mereka sedang belajar bagaimana melakukan sesuatu dengan benar, reaksi orangtua yang tidak tepat bisa memupuskan kebaikan anak.

Setiap cerita memberikan referensi bagi pembaca untuk berhadapan dengan anak. Mengelola emosi, memenuhi aktivitas dengan berdiskusi, kerjasama apik dari suami-istri dan keyakinan bahwa Allah selalu membersamai membuat setiap pengalaman terasa bisa diandalkan untuk dijadikan bekal mendidik anak. Cerita Satpam Gadjet yang Cerewet membuat saya tertawa tetapi juga mengagumi komitmen dan ketekunan dari Teh Kiki dalam membimbing setiap buah hatinya menjadi pribadi berdaya guna, sekaligus bertaqwa.

Modal yang paling utama adalah kepercayaan kepada Allah. Bahwa Allah telah memasangkan seorang anak dengan orangtuanya. Maka ketika Allah menitipkan seorang anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Allah juga akan menitipkan sekian ilmu dan kemampuan kepada orangtua dalam membimbing mereka, jika orangtua tersebut mau meraihnya. (h.96)
Readmore → 5 Guru Kecilku #2

Sunday, March 13, 2016

Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Judul: Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil 
Penulis: Torey Hayden
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita
ISBN: 9793269065
Cetak: Keenam, Februari 2014
Tebal: 478 hlm
Bintang: 3/5
Harga: Rp 20.000 (Beli Seken)


Baik saya mau mengakuinya atau tidak, kehidupan di kelas saya merupakan perang tanpa henti. Bukan hanya dengan anak-anak melainkan juga dengan diri saya sendiri. ~ h.85

Torey adalah seorang psikolog pendidikan yang memiliki kelas 'terapi' dengan anak-anak yang memiliki masalah berat dalam hidupnya. Saya mengajar di sebuah kelas yang, di distrik sekolah kami, memiliki julukan sayang: "kelas sampah." Saat itu merupakan tahun terakhir sebelum dimulai upaya mengklasifikasikan anak-anak khusus; tahun terakhir untuk memilah-milah semua anak yang memiliki kelainan ke dalam kelas tersendiri.... Saya mendapat delapan anak tersisa, delapan anak yang tidak masuk klasifikasi. Saya adalah perhentian terakhir sebelum mereka dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Itu adalah kelas untuk manusia buangan yang masih muda.

Sheila hadir di kelas agak terlambat, dari awal tahun ajaran. Kasusnya membakar anak kecil menjadikan dia, anak bermasalah dengan kategori berat. Perlakuan Ayahnya dan ditinggalkan di jalanan oleh ibunya menjadikan Sheila biang masalah di semua sekolah yang pernah ditempati, ditambah lagi, dia selalu kesulitan dalam mengendalikan emosi. Torey berhadapan dengan anak yang baru berusia 5 tahun tapi memiliki banyak konflik dalam dirinya.

Dia (Sheila) terbiasa memperjuangkan apa yang diinginkannya. Jika seseorang mengambil tempat dalam barisan yang telah dipilihnya, dia memukul orang itu cukup keras untuk mendapatkan kembali ~ h. 164

Akan tetapi, masalahnya lebih dari sekadar menghancurkan kertas atau bahkan bayi gerbil. Balas dendam itu benar-benar diperhitungkan dan dipendamnya lama, sering disebabkan hal-hal tidak sengaja dilakukan orang terhadapnya. ~ h. 181

Sheila terbiasa disakiti pikirannya sehingga ketika ada orang yang berlaku baik padanya, rasa curiga dan tanda tanya besar beberapa kali muncul dalam pertanyaan-pertanyaannya kepada Torey. "Kenapa kau melakukan ini?" pertanyaan yang muncul saat Torey menunjukkan kasih sayangnya atau memberikan hadiah. Proses membimbing Sheila memperbaiki karakter terasa perlahan dan penuh kesabaran, bahkan saya terkadang merasa bosan karena perubahan Sheila terasa lambat dan berputar-putar.

Kepergian Torey selama dua hari untuk konferensi pendidikan ternyata berakibat fatal. Sheila yang dikiranya  sudah bisa mengendalikan emosi, ternyata kembali meluapkan kemarahannya dengan menghancurkan kelas. Rasa sakit hati Torey, yang sebelumnya menaruh kepercayaan besar kepada Sheila, membuat saya ikut merasa marah kepada Sheila. Tapi, lagi-lagi Torey harus bisa mengatasi 'perang tanpa henti' dalam dirinya.

Bagian yang agak menggoncang adalah kasus dengan Paman Jerry. Sebenarnya dari awal saya sudah memikirkan kemungkinan akan menemukan kasus pelecehan seksual dalam buku Sheila, tapi saya tidak menyangka akan semengerikan itu. Saya syok. Butuh jeda untuk bisa melanjutkan membaca memoar Sheila ini. #ngelusdada

Catatan Torey Hayden dalam menangani murid-muridnya, terutama Sheila, sangat menarik. Torey selalu jujur dengan setiap anak didiknya, dia menyampaikan apa yang dirasakannya dan tak canggung menjawab, tidak tahu. Mengedepankan diskusi meski mereka baru berusia 5-6 tahun, dan memancing anak didiknya untuk mencari solusi dari masalah yang terjadi. Satu lagi yang disoroti dalam buku ini, Torey tidak menampilkan dirinya sebagai orang yang sempurna, tapi seorang pembelajar yang tak segan belajar dari anak didiknya.
Readmore → Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Tuesday, March 1, 2016

Jangan Bercerai, Bunda

Judul: Jangan Bercerai, Bunda
Penulis: Asma Nadia, dkk
Editor: Diyan Sudihardjo, Nabila Fadiyah
Penerbit: Asma Nadia Pusblishing
ISBN:  9786029055207
Cetak: September, 2013
Tebal: 285 hlm
 Bintang: 3/5

 Perceraian harus dilihat sebagai pintu darurat yang hanya dibuka jika memang sudah tidak ada pilihan lain
Cerai. Kata tabu yang menyimpan banyak ketakutan, tapi pada kondisi tertentu sangat dibutuhkan untuk mengembalikan harapan hidup. Alhamdulillah, dalam keluarga intinya saya, belum ada talak yang pernah terucap, Nau'udzubillah min dzalik. Tetapi, perceraian cukup mudah ditemukan di sekitar, dari keluarga besar atau tetangga. Apalagi, telinga dan mata dicekoki berita-berita perceraian artis melalui infotainment atau berita di laman-laman dunia maya.

Perhelatan nikah yang selalu disambut dengan sumringah, sejatinya membutuhkan perjuangan dan komitmen yang tak luput dari air mata. Adanya orang ketiga, perbedaan prinsip, dan kekerasan dalam rumah tangga menjadi alasan jatuhnya talak, yang banyak ditemukan dalam kumpulan kisah nyata, Jangan Bercerai Bunda

"Perkara halal yang paling dibenci Allah adalah Talak / cerai”

Perceraian memang dihalalkan, tetapi dampak/perubahan yang ditimbulkan tidak main-main. Tak hanya untuk si pelaku (suami-istri) tetapi juga anak atau orangtua masing-masing. Sehingga Allah pun menjadikan perceraian adalah perkara yang dibenci. Anak adalah pihak yang sering menjadi korban, apalagi jika orangtua masih tetap menggenggam ego dan kebencian pada si 'lawan' setelah perpisahan. 

Aku menyesali proses kami berpisah. Aku benar-benar tidak memperhatikan dampak psikologis anak-anak, terutama Putri.... sebenarnya bisa saja kami tidak harus bercerai. Atau paling nggak kami berpisah dengan baik-baik, kalau saja saat itu aku nggak terbawa emosi, bertindak tanpa membabi buta, dan tidak egois hanya memikirkan menang ~ h.33

Anak membutuhkan sosok ayah dan ibu dalam perkembangannya. Kasih sayang utuh, walaupun orangtua sudah dalam posisi berpisah. Meski tidak dipungkiri, banyak juga anak yang kekurangan kasih sayang akibat orangtuanya terlalu sibuk dengan aktivitas/pekerjaan. 

Yang kutahu Bilfa tak pernah menyesali keadaan. Dia hanya rindu ayahnya, bukan meratapi perpisahan orangtuanya. ~ h.18
Apa keluarga baru Ibu bukan keluargaku? Lalu keluargaku yang mana? Jadi aku tidak punya keluarga? Sungguh membingungkan ~ h. 183

Mengalahkan ego setelah perceraian, demi memberikan kasih sayang pada anak sesuai kapasitasnya, bisa jadi hal yang sangat sulit. Seperti ketika orang lain melukai hati kita, tapi kondisi tetap memaksa untuk bertemu dengan sosoknya, pastinya membutuhkan kelapangan hati yang luar biasa. Perceraian tak jarang menjadi pilihan yang membutuhkan pemikiran panjang meski kondisi sudah kepayahan. Ketakutan akan status anak, jadi omongan tetangga, masalah ekonomi, menjadi pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan perceraian.

Demi hak Fatimah untuk mempunyai orangtua yang lengkap, aku merelakan diri menerima kekerasan dalam rumah tangga berhari-hari. Tapi aku manusia juga yang ada saatnya melemah karena ujian berat.

Mudahnya diri terbawa emosi, ego yang tinggi, nurani yang kerap terabaikan, memperlihatkan betapa lemahnya manusia. Ketika goncangan rumah tangga dan kebingungan begitu kuat, manusia membutuhkan pegangan yang kokoh dan pemberi keputusan terbaik. Istikharah, menyertakan Allah dalam setiap pengambilan keputusan, sangat diperlukan. Saya menemukannya keistimewaaan Iistikharah dalam cerita 'Saat Untuk Berpisah'  

Salah satu kisah yang menurutku paling menarik adalah Ketika Cinta Pergi. Saya dibuat geleng-geleng kepala dengan kebrutalan pihak keluarga lelaki dalam memisahkan Shinta dan Adhi. Sekuat-kuatnya mereka mempertahankan ikatan, tapi saat keluarga tidak merestui, perceraian bisa terjadi.  Pernikahan tak selalu indah, tapi juga tak melulu sedih. Perlu niat awal dan tujuan yang lurus untuk bisa mempertahankan keutuhan keluarga.
Ternyata 30 tahun belumlah cukup untuk saling memahami dan menghargai pasangan. Di sinilah aku semakin mengerti, ternyata cinta saja tidak cukup dalam membangun rumah tangga. Saat Allah dianggap bukanlah tujuan dalam membina rumah tangga, saat itu pula semua akan goyah. ~ h. 253
Readmore → Jangan Bercerai, Bunda
 

Sahabat si Cilik Template by Ipietoon Cute Blog Design